Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kelautan dan Perikanan mempercepat upaya mencapai swasembada garam pada 2027 lewat tiga strategi: ekstensifikasi, intensifikasi, dan pengembangan teknologi.
Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi garam nasional secara berkelanjutan dan terukur.
“Strategi pemerintah dirancang untuk meraih swasembada garam sekaligus menjamin kesejahteraan petani,” kata Direktur Sumber Daya Laut Kementerian, Frista Yorhanita, di Jakarta pada Kamis.
Strategi pertama, ekstensifikasi, meliputi pengembangan tambak garam baru yang bertujuan memproduksi garam industri.
Strategi kedua berfokus pada intensifikasi tambak yang ada untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas. Namun, pendekatan ini menghadapi tantangan, termasuk terbatasnya ketersedian lahan yang cocok dengan status hukum jelas, serta infrastruktur dan fasilitas pendukung yang belum memadai.
Strategi ketiga berkisar pada pengembangan teknologi produksi untuk mengurangi ketergantungan pada cuaca dan meningkatkan kualitas produk.
Bekerjasama dengan produsen garam BUMN PT Garam, pemerintah akan mendorong penggunaan teknologi modern untuk menjamin stabilitas produksi dan memenuhi permintaan industri.
Kementerian menargetkan swasembada garam nasional pada 2027, karena permintaan tahunan diproyeksikan mencapai antara 4,9 hingga 5,2 juta ton. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen dari permintaan itu—terutama untuk keperluan industri—masih dipenuhi melalui impor.
Sementara itu, produksi garam nasional dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi, berada di kisaran 2 juta ton per tahun. Dengan permintaan mencapai kurang lebih 5 juta ton, masih terdapat kekurangan sekitar 3 juta ton yang belum dapat dipenuhi produksi dalam negeri.
“Produksi domestik belum optimal baik dari segi kuantitas maupun kualitas, serta belum memenuhi standar dan kebutuhan industri,” jelas Yorhanita.
Penurunan produksi juga dipengaruhi metode tradisional yang masih sangat tergantung pada cuaca. Sebagian besar wilayah penghasil garam hanya mengalami lima hingga enam bulan cuaca kering setiap tahun, sehingga produksi sepanjang tahun tidak memungkinkan.
Dari segi mutu, standar garam lokal sangat beragam, karena sektor ini melibatkan sekitar 25.000 petani dengan tingkat keterampilan dan peralatan yang berbeda-beda.
Saat ini, kadar NaCl rata-rata tertinggi hanya sekitar 94 persen, sedangkan untuk penggunaan industri memerlukan kemurnian minimal 97 persen, dan industri farmasi membutuhkan hingga 99 persen.
Berita terkait: Mendorong Indonesia Lebih Dekat ke Swasembada Garam
Penerjemah: Muhammad Harianto, Raka Adji
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026