Indonesia Targetkan Produksi Batu Bara Turun ke 600 Juta Ton pada 2026

Jakarta (ANTARA) – Kementerian ESDM Indonesia berencana menurunkan produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026. Jumlah ini hampir 200 juta ton lebih rendah dibanding produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Rencana ini dikonfirmasi oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis.

Selain memotong produksi batu bara, kementerian juga berniat mengurangi produksi nikel di tahun 2026. Namun, besaran total rencana penurunan produksi nikel masih belum ditentukan.

“Kami akan menyesuaikan dengan permintaan industri,” kata Lahadalia.

Pemotongan produksi ini bertujuan untuk menstabilkan harga komoditas global. Saat ini, perdagangan batu bara global mencapai kurang lebih 1,3 miliar ton per tahun, dengan kontribusi Indonesia sekitar 514 juta ton.

Bagian yang signifikan ini telah berkontribusi pada penurunan harga batu bara global, seperti tercermin pada harga acuan batu bara.

Harga acuan batu bara Indonesia untuk periode pertama Januari 2026 berada di angka US$103,30 per ton, jauh lebih rendah dibanding US$124,24 per ton pada Februari 2025.

Mengingat porsi Indonesia yang besar dalam perdagangan batu bara global, Kementerian ESDM yakin bahwa pemotongan produksi akan mampu mendongkrak harga kembali naik.

“Ini untuk memastikan harga yang menguntungkan dan agar kita bisa mewariskan tambang-tambang ini ke generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, harga nikel juga mengalami penurunan, turun dari US$15.660 per ton metrik kering (dmt) pada Januari 2025 menjadi US$14.630 per dmt pada periode pertama Januari 2026.

Menteri Lahadalia juga mendorong pelaku industri besar untuk membeli bijih nikel dari perusahaan tambang lokal.

“Tidak boleh ada monopoli. Kami ingin investor yang kuat, tapi kami juga ingin perusahaan lokal kuat, untuk mendorong kolaborasi,” tegasnya.

MEMBACA  25 Saham Terburuk untuk Dimiliki pada Bulan Oktober, Termasuk CMG

Berita terkait: Indonesia to cut coal production in 2026 to stabilize global prices

Berita terkait: Domestic market protection remains government’s priority: Minister

Penerjemah: Putu Indah, Raka Adji
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar