Kementerian Perdagangan Indonesia Kaitkan 30 UKM dengan Ritel Jepang
Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perdagangan Indonesia telah menghubungkan 30 usaha kecil dan menengah (UKM) dengan peritel besar Jepang untuk memperluas akses ekspor barang konsumen cepat habis (FMCG) Indonesia. Ini menargetkan salah satu pasar konsumen paling ketat di Asia.
Kementerian bekerja sama dengan Japan External Trade Organization (JETRO) untuk menyelenggarakan sesi business matching antara UKM Indonesia dan empat perusahaan ritel utama Jepang. Sesi itu fokus pada akses pasar dan pemenuhan standar Jepang yang ketat.
Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi mengatakan inisiatif ini bertujuan menyelaraskan produk Indonesia dengan kualitas, keamanan, dan kebutuhan konsumen Jepang. Tujuannya agar pemasok lokal bisa bersaing di pasar bernilai tinggi dengan hambatan masuk yang besar.
"Kami mempertemukan pemasok Indonesia dan peritel Jepang untuk menyelaraskan standar pasar, agar produk kami dapat memenuhi persyaratan ketat dan kebutuhan konsumen Jepang," kata Puntodewi dalam pernyataan di Jakarta, Rabu.
UKM yang berpartisipasi bergerak di bidang furnitur, peralatan rumah, kosmetik dan perawatan kulit, perawatan hewan peliharaan, serta makanan dan minuman. Ini menekankan upaya Indonesia mendiversifikasi ekspor di luar komoditas dan sektor otomotif.
Business matching dilakukan melalui pertemuan tatap muka langsung, memungkinkan setiap UKM mempresentasikan produk unggulan, menampilkan sampel, dan bernegosiasi harga dengan perwakilan ritel Jepang.
Puntodewi menyatakan Indonesia dan Jepang punya potensi kuat untuk memperdalam kerja sama di bidang furnitur, rumah tangga, wellness, perawatan diri, dan produk kecantikan. Bidang-bidang ini ia sebut sebagai pendorong pertumbuhan baru dalam rantai pasok global.
"Di luar otomotif, kami melihat peluang signifikan di home living, wellness, perawatan diri, dan kecantikan. Kami optimistis produk FMCG dan kreatif Indonesia dapat membantu mendorong pemulihan pada 2026," ujarnya.
Ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang tercatat US$14,08 miliar pada Januari-November 2025, turun 17,91 persen dibanding tahun sebelumnya akibat tekanan ekonomi global menurut data resmi.
Meski mengalami penurunan, tren perdagangan jangka panjang tetap positif. Total perdagangan Indonesia-Jepang tumbuh 9,47 persen dalam lima tahun terakhir, sementara ekspor nonmigas naik 8,82 persen.
Badan Pusat Statistik mencatat total perdagangan bilateral mencapai US$29,29 miliar pada Januari hingga November 2025, turun 10,45 persen secara tahunan. Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan US$2,64 miliar.
Puntodewi berharap business matching ini menghasilkan kesepakatan konkret yang bisa berkembang menjadi kemitraan jangka panjang. Hal ini akan memperkuat posisi Indonesia di pasar ritel Jepang yang kompetitif.
Berita terkait:
Indonesia, Jepang perdalam hubungan dagang lewat business matching di Jakarta
Indonesia dan Jepang jelajahi kerja sama lebih dalam di pendidikan tinggi dan sains
Penerjemah: Maria Cicilia Galuh Prayudhia, Martha Herlinawati
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026