Jakarta (ANTARA) –
Menteri Digital Indonesia menyatakan pada Selasa bahwa negara ini harus mengubah tingginya adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi produktivitas yang lebih besar, daya saing yang lebih kuat, dan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan sambil berupaya memposisikan diri sebagai pusat inovasi AI regional.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mencatat bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen, namun penggunaanya untuk kegiatan produktif dan penciptaan nilai masih terbatas. Ia mendorong startup-startup untuk mempercepat inovasi dan komersialisasi.
“Meski adopsi AI mencapai 92 persen, pemanfaatan produktifnya masih minimal. Karena itulah kami menyambut baik kemunculan startup-startup baru untuk mengubah teknologi menjadi nilai ekonomi riil,” kata Meutya dalam sebuah pernyataan di Jakarta.
Dia menyoroti potensi digital Indonesia yang sangat besar, dengan 278 juta penduduk dan lebih dari 230 juta telah terhubung ke internet—mewakili 80,66 persen populasi—menjadikannya salah satu pasar digital terbesar di Asia-Pasifik.
Ekonomi digital Indonesia telah melampaui 80 miliar dolar AS dan diproyeksikan melebihi 130 miliar dolar AS pada 2025, didorong oleh inovasi teknologi, transformasi digital di sektor-sektor tradisional, dan kumpulan talenta digital yang berkembang pesat.
Untuk memperkuat ekosistem, pemerintah telah meluncurkan Garuda Spark Innovation Hub, sebuah platform yang menghubungkan startup berbasis AI dengan perusahaan teknologi global dan modal ventura untuk mempercepat pengembangan produk dan akses pasar.
“Kami bertujuan untuk beralih dari sekadar menjadi pasar digital menjadi pusat inovasi AI di ASEAN,” ujar Meutya.
Pemerintah juga bermitra dengan perusahaan-perusahaan global untuk mempercepat pengembangan keterampilan, termasuk melalui Google for Startups Accelerator, yang telah meluluskan 63 startup Indonesia sejak diluncurkan tahun lalu.
Para lulusan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 2.500 startup aktif yang berkontribusi langsung terhadap ekonomi digital, menegaskan peran sektor ini yang semakin besar sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, tambahnya.
Penerjemah: Farhan Arda Nugraha, Martha Herlinawati Simanjunta
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026