Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa AS akan menerima 30–50 juta barel minyak dari Venezuela kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada pasar energi global.
Menurut Hartarto, kapasitas produksi minyak Venezuela saat ini berada di bawah satu juta barel per hari, atau kurang dari satu persen dari output minyak global. Alhasil, pengalihan volume minyak sebanyak itu tidak akan banyak mempengaruhi pasokan global.
“Tidak akan ada dampaknya. Pertama, produksi minyak Venezuela di bawah satu juta barel per hari, jadi kurang dari satu persen. Secara global, tidak akan ada pengaruh,” ujar Hartarto di kantornya pada Jumat.
Dia mencatat bahwa perkembangan ini justru akan lebih berpengaruh pada pasar energi domestik AS daripada pasar global secara keseluruhan.
Sebelumnya, pada 6 Januari, Trump mengumumkan bahwa pemerintah sementara Venezuela telah menyetujui pengalihan 30 hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat.
Minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar, dan hasil penjualannya akan dikelola di bawah pemerintahan Trump.
Trump berharap langkah ini dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan energi AS sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara. Dengan asumsi harga minyak sekitar US$56 per barel, 30–50 juta barel tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$2,8 miliar, atau sekitar Rp47 triliun.
Ditanya tentang transisi politik di Venezuela, Hartarto mengatakan pemerintah Indonesia terus memantau perkembangannya.
“Kita hanya akan memantau saja,” katanya.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menilai bahwa konflik yang berlangsung di Venezuela belum berdampak signifikan pada harga minyak global atau perdagangan minyak internasional.
Menanggapi ketidakpastian geopolitik, Indonesia mengambil langkah antisipasi dengan meningkatkan produksi minyak dalam negeri.
Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan perkembangan di Venezuela tidak mempengaruhi pasokan atau harga bahan bakar di Indonesia, mengingat Indonesia tidak mengimpor minyak mentah dari negara tersebut.
Berita terkait: Kelompok pemuda Indonesia kecam aksi militer AS di Venezuela
Berita terkait: RI pantau krisis Venezuela, utamakan WN dan ketahanan energi
Berita terkait: RI tingkatkan produksi minyak nasional untuk antisipasi dampak dari Venezuela
Penerjemah: Bayu Saputra, Resinta Sulistiyandari
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026
https://www11.urbe.edu/ojs/index.php/wn/user/getInterests?term=44742019229&o2x=J0ubF8gh