Jakarta (ANTARA) – Kementerian Kesehatan Indonesia telah memulai pemberian vaksin campak-rubella (MR) kepada tenaga medis dan kesehatan di daerah berisiko tinggi. Targetnya puluhan ribu orang sebagai upaya mengendalikan kasus yang meningkat.
“Imunisasi MR akan diberikan kepada 39.212 tenaga medis dan 223.150 tenaga kesehatan di 14 provinsi dengan kasus campak tertinggi, serta 28.321 dokter umum dan spesialis perawatan intensif di seluruh Indonesia,” ujar Pelaksana Tugas Dirjen Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, dalam konferensi pers Jumat lalu.
Hingga saat ini, 565 tenaga medis dan kesehatan telah menerima vaksin campak, tandasnya, menandai fase awal program ini.
Saguni menambahkan, petugas yang sudah menerima dua dosis vaksin campak tidak perlu tambahan suntikan lagi.
“Namun, mereka yang hanya dapat satu dosis akan mendapat booster. Yang tidak ada riwayat imunisasi akan terima dua dosis dengan jarak minimal 28 hari,” jelasnya.
Setiap dosisnya 0,5 mililiter dan disuntikkan secara subkutan, atau ke jaringan lemak di bawah kulit.
Pada kesempatan sama, Direktur RSUD Kota Bandung Nitta Kurniati menyambut baik program ini. Ia sebut ini langkah tepat waktu untuk lindungi tenaga kesehatan dan masyarakat luas dari infeksi campak.
“Di Bandung, sekitar 20 vial akan digunakan per sesi untuk memvaksin 160 penerima di RSUD Kota Bandung,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Adam Malik Zainal Safri mengatakan institusinya mendukung penuh program imunisasi nasional ini.
“Kami harap kasus campak, termasuk pada tenaga kesehatan, tidak terulang lagi, karena vaksinasi sebelumnya tidak selalu jamin perlindungan penuh,” katanya.
Dia menambahkan, rumah sakit telah terima 16 vial vaksin MR, cukup untuk berikan pada 160 tenaga kesehatan dan sasaran lain pada hari Jumat tersebut.
Penerjemah: Mecca Yumna, Resinta Sulistiyandari
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026