Jakarta (ANTARA) – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak yang terdampak bencana di Sumatra, dengan menggunakan sesi bercerita untuk membantu mereka memproses trauma dan kembalikan kestabilan emosi.
Aktivis anak Maia Janitra menyebutkan di Padang, Sumatra Barat, pada Sabtu bahwa bercerita adalah cara yang efektif untuk menyemangati anak-anak pasca krisis, terutama di saat banyak dari mereka menghabiskan waktu berjam-jam terpaku pada layar.
“Bercerita mendorong anak untuk melihat dunia lewat narasi. Ini membantu menyampaikan pesan moral dengan cara yang mereka pahami dan membuat mereka lebih tenang serta lebih mampu mengelola emosi,” ujarnya. Dia menambahkan bahwa penggunaan gawai berlebihan sering menyebabkan anak-anak menarik diri.
Janitra memimpin sesi bercerita di posko dukungan psikososial bergerak yang didirikan kementerian di kamp pengungsian Akademi Kelautan Sapta Samudra. Sekitar 120 anak dari daerah terdampak banjir mengikuti kegiatan ini.
Dia mengatakan interaksi tatap muka membantu orang dewasa memahami pikiran anak sembari memperkuat ikatan emosional.
Dari sesi sebelumnya dengan anak-anak korban banjir, dia mencatat bahwa beberapa anak memandang barang-barang yang hilang sebagai bagian dari identitas atau simbol status sosial — sebuah perspektif yang dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya belanja online.
“Dengan hadir dan berinteraksi, kita bisa membantu membentuk ulang karakter mereka, bukan dengan menyalahkan, tapi dengan menuntun mereka ke arah pandangan yang lebih sehat,” katanya.
Janitra menekankan bahwa orang tua harus tetap terlibat aktif dalam pemulihan emosi anak-anaknya. Mengandalkan gawai untuk membuat mereka sibuk justru dapat meningkatkan volatilitas emosional dan memicu tantrum yang lebih sering, dia memperingatkan.
Bercerita, menurutnya, merangsang imajinasi dan keterampilan kognitif.
Dia mendorong orang tua untuk kreatif dengan menggunakan alat peraga atau memberi hadiah kecil untuk memotivasi anak. Sebagian anak masih takut ketika hujan turun karena mengingatkan mereka pada banjir, dan bercerita dapat membantu meredakan kecemasan ini.
Bantuan psikososial bergerak kementerian ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 17/2025 tentang Tata Kelola Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak, yang berupaya melindungi anak di bawah umur dari risiko terkait media sosial dan gim daring.
Kementerian juga berupaya memulihkan layanan internet dan telekomunikasi di daerah terdampak banjir dan tanah longsor, serta telah mendirikan pusat informasi dan media untuk mendukung komunikasi dan koordinasi darurat.
Berita terkait: Indonesia percepat rencana pemulihan perumahan pasca banjir Aceh
Berita terkait: Indonesia hentikan sementara perusahaan di Batang Toru pasca banjir mematikan
Penerjemah: Sinta Ambarwati, Mecca Yumna
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2025