Indonesia Luncurkan Gerakan Bersama untuk Kesehatan Mental Anak

Jakarta (ANTARA) – Indonesia telah meluncurkan inisiatif lintas sektor guna menangani masalah kesehatan mental yang meningkat di kalangan anak-anak. Sebanyak sembilan menteri dan kepala badan pemerintahan telah menandatangani keputusan bersama yang bertujuan memperkuat upaya pencegahan dan penanganannya.

Kerja sama ini diformalkan melalui penandatanganan Keputusan Bersama mengenai Kesehatan Mental Anak di Jakarta pada hari Kamis.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, salah satu penandatangan, menekankan urgensi inisiatif ini menyusul sejumlah kasus bunuh diri dan kekerasan terbaru yang melibatkan anak Indonesia.

"Tren kasus kesehatan mental pada anak terus naik. Kasus bunuh diri anak juga meningkat," ujarnya.

Dia mencatat bahwa faktor-faktor risiko dibalik masalah ini kompleks dan tersebar di berbagai sektor, membuat mustahil bagi satu kementerian saja untuk menangani isu ini sendirian.

Karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Menteri Kesehatan telah menyerukan kolaborasi yang lebih kuat antar lembaga untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak.

Pratikno menyatakan setiap pemangku kepentingan yang terlibat dalam keputusan ini memiliki tanggung jawab spesifik dalam upaya tersebut. Mulai dari mengatasi masalah keluarga — yang sering menjadi akar penyebab tekanan psikologis — hingga mencegah kekerasan di sekolah dan madrasah, serta mengatur paparan anak terhadap konten media sosial yang berbahaya.

Dia menambahkan, kerja sama antar lembaga pemerintah dan stakeholder sosial sangat krusial, khususnya dalam edukasi publik, program-program outreach, dan langkah deteksi dini yang bertujuan mencegah masalah kesehatan mental sebelum meningkat.

"Kita harus pastikan kebijakan kita komperehensif dan diimplementasikan sepenuhnya, mencakup promosi, pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi. Diwaktu yang sama, kebijakan ini harus dijalankan secara terintegrasi," kata Pratikno.

MEMBACA  Mastercard Bermitra dengan Chainlink untuk Memungkinkan Pembelian Crypto Langsung melalui Kartu Pembayaran

Sebelumnya, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, memperingatkan bahwa negara ini menghadapi apa yang dia gambarkan sebagai darurat bunuh diri anak.

"Pada tahun 2023, 46 anak mengakhiri hidupnya; di 2024 ada 43 kasus; dan di 2025 ada 26. Sejauh ini di 2026, tiga anak sudah meninggal karena bunuh diri," katanya saat dihubungi pada 4 Februari.

Dia menyebutkan faktor pendorong utama dibalik kasus bunuh diri anak mencakup bullying, diikuti masalah pola asuh, tekanan ekonomi, bermain game daring berlebihan, dan masalah percintaan di kalangan remaja.

Berita terkait: KPAI cari sinergi lebih besar untuk lindungi anak dari kekerasan dan bunuh diri

Berita terkait: Pemerintah tingkatkan kapasitas pekerja layanan untuk tangani masalah mental

Penerjemah: Prisca Triferna, Raka Adji
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar