Indonesia Kirim 545 Ton Unggas ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Selasa (18/2) memberangkatkan 545 ton produk unggas senilai Rp18,2 miliar (sekitar US$1,2 juta) ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Langkah ini memperluas ekspor komoditas pangan strategis Indonesia.

“Hari ini kita kirim produk unggas ke tiga negara: Singapura, Jepang, dan Timor Leste,” ujar Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta.

Dia menyatakan ekspor ini menandakan industri perunggasan Indonesia tidak hanya sudah swasembada ayam dan telur, tetapi juga mulai merambah pasar global.

Sulaiman menekankan bahwa Indonesia kini memiliki kapasitas produksi yang kuat setelah mencapai swasembada telur dan ayam.

“Kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan bahan pokok lain. Sekarang kita pacu ekspor ke negara lain. Saat ini ada 10 tujuan ekspor rutin. Hari ini, tiga negara akan menerima produk unggas kita,” jelasnya.

Dia menambahkan, kesuksesan ekspor membuktikan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor ayam.

“Kita berkomitmen menjadi pusat pangan global, mencakup karbohidrat dan protein. Untuk protein, khususnya unggas, kini sudah swasembada dan siap ekspor,” tegasnya.

Sulaiman mengatakan peningkatan produksi tidak boleh membuat harga anjlok bagi peternak. Pemerintah mengelola surplus melalui penyerapan di dalam negeri, termasuk program Pemberian Makanan Bergizi Gratis, serta memperluas saluran ekspor.

Ekspor ditangani empat perusahaan dalam negeri dengan volume dan nilai berbeda: PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT Taat Indah Bersinar, dan PT Malindo Food Delight.

Bagi pelaku usaha, ekspor memberikan kepastian pasar di tengah produksi domestik yang melimpah. Pemerintah memanfaatkan surplus untuk menstabilkan harga di tingkat peternak dan memperlebar akses pasar global.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan keberhasilan ekspor bertumpu pada sistem kesehatan hewan yang kuat, jaminan keamanan pangan, dan pengawasan berstandar internasional.

MEMBACA  Seorang Biarawan Menjadi Penasihat Etika Kecerdasan Buatan untuk Vatikan dan Italia

“Setiap produk ekspor melalui sertifikasi karantina dan pengawasan ketat sesuai persyaratan negara tujuan. Kami pastikan traceability, biosekuriti, dan keamanan pangan agar ekspor berkelanjutan,” kata Agung.

Dia menambahkan, akses pasar dijaga melalui diplomasi veteriner intensif dan komunikasi teknis dengan negara mitra, sehingga membangun kepercayaan internasional lewat kualitas dan kepatuhan.

Dengan produksi melimpah dan pasar ekspor yang tumbuh, sektor perunggasan Indonesia semakin kuat. Kementan akan terus menjaga keseimbangan antara surplus produksi, stabilitas harga di peternak, dan perluasan pasar global untuk meningkatkan daya saing industri.

Berita terkait:
Larangan Saudi atas unggas Indonesia tidak terkait isu halal: Pemerintah RI
Indonesia akan bangun peternakan unggas terpadu dukung program MBG
Pemerintah usulkan subsidi transportasi bagi produsen pangan di Kalteng

Penerjemah: M.Harianto, Rahmad Nasution

Editor: Azis Kurmala

Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar