JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada hari Senin mengungkapkan kekhawatiran mereka soal program nuklir China. Hal ini terjadi setelah kapal selam nuklir China berhasil melakukan uji tembak rudal balistik antarbenua (ICBM) di Samudra Pasifik. Rudal tersebut ditembakkan tanpa membawa hulu ledak nuklir.
Uji coba ini dilakukan dua tahun setelah China menembakkan ICBM ke perairan dekat Polinesia Prancis. Waktu itu, itu adalah pertama kalinya rudal jenis ini diluncurkan di atas perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun.
Para analis mengatakan bahwa uji coba ini menunjukkan kemampuan China semakin meningkat untuk menyerang daratan Amerika Serikat. AS sendiri menganggap China sebagai musuh utamanya, meskipun ada upaya rekonsiliasi di bawah Presiden Donald Trump.
“Pada saat Amerika Serikat bekerja lebih keras untuk mencegah penyebaran senjata nuklir, China melakukan hal sebaliknya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott.
“Dengan cepat dan tidak transparan, peningkatan senjata nuklir Beijing sangat mengkhawatirkan bagi kawasan maupun dunia,” lanjut Pigott, seperti dikutip AFP pada Selasa (7/7/2026).
Sebelumnya, pada bulan Februari, Amerika Serikat membiarkan berakhirnya pakta New START, yaitu perjanjian pengendalian senjata besar terakhir dengan Rusia. AS bersikeras ingin membuat perjanjian baru yang juga melibatkan China.
Namun, usaha itu telah ditolak oleh China. Meskipun arsenai nuklir mereka masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan Rusia, persenjataan China berkembang sangat pesat dalam beberapa waktu terakhir.