Indonesia Genjot Penggunaan Bioavtur untuk Kurangi Emisi Penerbangan

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perhubungan Indonesia tengah mendorong penggunaan bioavtur, yaitu bahan bakar penerbangan ramah lingkungan, sebagai upaya menekan emisi karbon di sektor transportasi udara nasional.

Kepala Divisi Tata Kelola Lingkungan Kementerian Perhubungan, Dodhy Wiboso, menyatakan industri penerbangan memainkan peran strategis dalam mencapai target penurunan emisi Indonesia.

“Bioavtur merupaka bagian dari upaya kita untuk mewujudkan transportasi udara rendah emisi. Ini tidak hanya mendukung komitmen pengurangan emisi, tapi juga menjamin keberlanjutan sektor penerbangan dalam jangka panjang,” kata Dodhy di Jakarta, Senin. Menurutnya, transisi bertahap ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan sangat penting.

Kementerian memandang pengembangan dan pemanfaatan bioavtur sebagai solusi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar jet fosil, dengan tetap menjaga standar keselamatan dan operasional penerbangan.

Inisiatif ini sejalan dengan kebijakan iklim nasional dan komitmen Indonesia untuk transisi energi bersih di seluruh sektor transportasi, termasuk penerbangan sipil.

Dodhy mencatat bahwa penerapan yang berhasil memerlukan kolaborasi antar kementerian, pelaku industri, dan penyedia energi agar adopsinya bertahap dan berkelanjutan.

Dia menyebutkan bahwa bioavtur sudah digunakan secara terbatas, contohnya oleh Pelita Air yang mengoperasikan penerbangan dengan bahan bakar dari minyak jelantah.

Namun, kapasitas produksinya masih belum mencukupi. Sementara itu, minyak sawit—bahan baku potensial lainnya—masih menghadapi masalah keberlanjutan.

“Ke depannya, jika minyak sawit ingin digunakan untuk bioavtur, kita harus bisa membuktikan bahwa bahan bakunya berkelanjutan,” tegas Dodhy.

Kementerian menegaskan kembali komitmennya untuk mendorong inovasi dan memperkuat tata kelola lingkungan di sektor penerbangan, guna membangun sistem transportasi nasional yang lebih berkelanjutan.

Penerjemah: M. Riezko Bima Elko Prasetyo, Katriana
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026

MEMBACA  ANC Afrika Selatan menolak tuntutan agar Presiden Ramaphosa mundur untuk pembicaraan koalisi menjadi \'tidak mungkin'.

Tinggalkan komentar