Jakarta (ANTARA) – Kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan menjadi “aplikasi pembunuh” yang mendorong adopsi jaringan 5G secara luas di Indonesia, menurut Kementerian Komunikasi dan Digital.
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital kementerian tersebut, Denny Setiawan, mengatakan bahwa sektor telekomunikasi sudah lama mencari faktor pemicu yang bisa membenarkan dan mempercepat transisi ke teknologi 5G.
“Kita selalu bertanya-tanya, apa sebenarnya konten pembunuh dari 5G. Apakah AI bisa menjadi konten pembunuh? Sepertinya iya,” ujarnya dalam acara Selular Award 2026 di sini pada Senin (8 Juni).
Peningkatan penggunaan AI menandai perubahan mendasar dalam cara data bergerak di jaringan. Ia menjelaskan bahwa meskipun era 4G didominasi oleh unduhan data—seperti streaming video dan browsing—aplikasi AI menghadirkan pola lalu lintas dua arah yang sangat kompleks dan membutuhkan infraastruktur yang jauh lebih kuat.
Karena layanan berbasis AI bergantung pada pemrosesan data real-time yang masif, penyelarasan antara perkembangan AI dan penerapan 5G kini dianggap penting untuk membuka nilai ekonomi baru di era digital.
Di luar infrastruktur, kementerian menyoroti dampak langsung AI terhadap produktivitas sehari-harih di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan bisnis perusahaan.
“Saya pribadi menggunakan AI untuk membuat presentasi cepat,” catat Setiawan, sambil menunjukkan bagaimana teknologi ini merampingkan alur kerja bagi mahasiswa dan konsultan.
“Mereka jadi lebih produktif,” tambahnya.
Kementerian tetap sangat optimis terhadap percepatan AI di Indonesia, dengan menyebutkan pasar digital domestik yang sangat besar, yang saat ini menguasai sekitar sepertiga dari total populasi ASEAN.
Untuk mempertahankan momentum ini, pemerintah Indonesia secara aktif memperkuat kerangka digital negara, yang saat ini berfokus pada perluasan alokasi spektrum frekuensi untuk mengakomodasi permintaan 5G, membangun jaringan serat optik dan kabel bawah laut yang kokoh, meningkatkan kapasitas pusat data untuk menangani pemrosesan AI, serta memperluas konektivitas nasional untuk menjembatani kesenjangan regional.
Denny menekankan bahwa membangun ekosistem komprehensif ini sangat penting.
Tanpanya, masyarakat luas tidak bisa sepenuhnya merasakan manfaat AI, dan teknologi itu juga tidak akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional Indonesia.