Indonesia Ekspor Urea ke Tiga Negara Jelang Penutupan Selat Hormuz

Makassar, Sulawesi Selatan (ANTARA) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa tiga negara sudah meminta impor pupuk urea dari Indonesia, menyusul penutupan Selat Hormuz.

“Kita akan ekspor urea karena kita adalah produsen, dan beberapa negara sudah meminta. Ada tiga negara yang memintanya,” ujar menteri ketika berkunjung ke gudang Bulog Panaikang, didampingi Wakil Direktur Bulog Marga Taufiq, di Makassar pada Minggu.

Namun, menteri tidak membocorkan nama-nama negara tersebut karena negosiasi masih berlangsung.

Ia berharap kesepakatan ini bisa memberikan nilai tambah dan manfaat yang optimal bagi Indonesia.

“Ini masih proses negosiasi, jadi harga kita pasti akan lebih baik,” kata Sulaiman.

Lebih lanjut dia menyebut, pemerintah sudah mengamankan persediaan pupuk sejak awal tahun lewat pembelian bahan baku, untuk menjamin ketersediaannya.

Menurut Sulaiman, langkah strategis ini merupakan bagian dari kebijakan visioner Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga ketahanan sektor pertanian.

Ia juga menekankan bahwa ketegangan politik di Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap harga pangan di Indonesia karena pasokan beras nasional aman.

Stok beras nasional telah mencapai 4,5 juta ton, yang cukup untuk kebutuhan sampai 11 bulan ke depan.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyatakan bahwa ekspor pupuk urea akan terus dilakukan selama kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

“Yang penting Indonesia aman dulu, baru kita bisa ekspor,” ujar Pribadi usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (2/4).

Dalam kondisi saat ini, Indonesia masih mampu mengekspor pupuk urea untuk membantu memenuhi kebutuhan negara tetangga yang mengalami kendala pasokan.

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik di kawasan itu menyebabkan banyak negara mengalami kendala dalam membeli beberapa komoditas seperti minyak dan pupuk.

MEMBACA  DPR Indonesia membahas kerjasama makanan dan energi dengan Singapura

Pribadi menyebut, tujuan ekspor pupuk urea Indonesia sebelumnya telah mencakup Australia, India, dan Filipina.

Ia juga menyatakan bahwa kapasitas produksi pupuk urea nasional secara operasional telah mencapai 8,8 juta ton, sedangkan kapasitas terpasang bisa mencapai 9,4 juta ton.

Meskipun terjadi kenaikan tajam harga urea global dari sekitar US$400 menjadi US$800 per ton, Indonesia tetap aman berkat produksi dalam negeri.

Soal kuota ekspor, Pupuk Indonesia menyebut angkanya sekitar 1,5 juta ton namun distribusinya tetap fleksibel tergantung pasokan domestik.

Berita terkait: Pasar global beralih ke pupuk Indonesia di tengah gangguan: Pemerintah

Berita terkait: Permintaan luar negeri meningkat untuk urea Indonesia di tengah perang Iran-AS: Menteri

Berita terkait: Pemerintah harus pastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi: Anggota DPR

Penerjemah: Arie Novarina
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar