Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, mendorong platform digital untuk menerapkan sistem deteksi usia berdasarkan perilaku guna mencegah anak-anak memalsukan usia saat registrasi.
Dia mencatat bahwa konten dewasa mudah mencapai umpan anak-anak karena celah dalam sistem verifikasi usia yang ada saat ini.
“Saat anak-anak memalsukan usia, sistem memperlakukan mereka sebagai dewasa. Ini membuat mereka sangat terbuka terhadap konten dewasa dan bahkan materi eksplisit seksual,” ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa.
Untuk itu, platform digital didorong untuk bergerak melampaui tanggal lahir yang dideklarasikan sendiri dan mulai menerapkan teknologi deteksi usia berbasis perilaku.
Kemenkominfo mendorong penyelenggara sistem elektronik untuk mengadopsi solusi canggih ini demi mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sistem Elektronik untuk Perlindungan Anak.
“Teknologi inferensi usia memungkinkan algoritma platform mengenali pola perilaku pengguna,” kata Patria.
Dia menjelaskan bahwa bahkan jika pengguna menyembunyikan usia aslinya, sistem dapat melakukan profiling berdasarkan konten yang mereka konsumsi. Jika sistem mendeteksi pola seperti anak-anak pada akun yang terdaftar sebagai dewasa, maka akses ke materi berbahaya akan diblokir secara otomatis.
Dia menambahkan bahwa platform besar, seperti YouTube, saat ini sedang menguji keandalan fitur-fitur ini di beberapa wilayah.
Wakil menteri tersebut menyatakan harapan agar upaya “keselamatan oleh desain” berkembang dari sekadar kepatuhan regulasi menjadi budaya perusahaan yang didedikasikan untuk menciptakan ruang digital yang aman.
Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Hilmi Adrianto, menyambut baik arahan tersebut namun mencatat bahwa tantangannya terletak pada menemukan solusi teknologi yang seimbang.
Dia menekankan kebutuhan untuk menyaring konten negatif tanpa membatasi akses anak-anak ke informasi dan inovasi yang positif.
Berita terkait: Perpustakaan NTT desak anak muda manfaatkan layanan gratis di tengah kemajuan digital
Berita terkait: Saat ekstremisme menyasar anak-anak di ruang digital Indonesia
Penerjemah: Farhan Arda, Raka Adji
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026