Indonesia Desak Evaluasi Keamanan PBB Setelah Gugurnya Pasukan Perdamaian

Jakarta (ANTARA) – Indonesia menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap protokol keamanan bagi pasukan penjaga perdamaian di semua area penempatan.

Hal ini ditekankan Menteri Luar Negeri Sugiono pada Minggu (26/1), menyusul wafatnya tiga penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas dalam misi United Nations Interim Force (UNIFIL) di Lebanon.

"Kami berupaya memastikan para penjaga perdamaian kita tetap sehat dan aman saat menjalankan tugas yang dipercayakan kepada mereka," ujarnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Sabtu (25/1).

Pemerintah Indonesia menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya tiga penjaga perdamaian Indonesia tersebut, yaitu Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Mayor (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon.

Selain tiga korban jiwa, Menlu mengungkapkan tiga personel lainnya mengalami luka-luka selama misi.

"Tadi malam, saya juga menerima laporan bahwa tiga personel TNI mengalami cedera," kata Sugiono sembari menyebut penyebabnya masih dalam penyelidikan.

Pascainsiden tersebut, pemerintah Indonesia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menggelar pertemuan membahas keamanan personel.

Sugiono menyatakan permintaan itu disetujui oleh Perancis, yang bertindak sebagai penholder untuk isu Lebanon di Dewan Keamanan.

"Intinya, pertama, kami sangat mengecam serangan terhadap penjaga perdamaian, khususnya dalam UNIFIL. Selanjutnya, kami menuntut investigasi tuntas karena ini misi penjagaan perdamaian," tegasnya.

Menlu menegaskan serangan terhadap penjaga perdamaian tidak dapat dibenarkan dan menjunjung tinggi pentingnya jaminan keamanan bagi semua personel.

"Mereka peacekeeping, bukan peacemaking, dan tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk peacemaking," jelas Sugiono mengenai sifat penugasan mereka.

Dia menambahkan bahwa peralatan dan pelatihan yang diberikan kepada pasukan ini khusus dimaksudkan untuk menjaga perdamaian, bukan untuk bertempur.

MEMBACA  Indonesia Berkomitmen untuk Membangun Ekosistem 5G di Asia-Pasifik

Berita terkait: Prabowo kecam aksi ‘biadab’ tewaskan penjaga perdamaian Indonesia

Berita terkait: Indonesia desak jaminan keamanan untuk penjaga perdamaian PBB di Lebanon

Penerjemah: Fathur Rochman, Raka Adji
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar