Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Indonesia dan Unit Manajemen Proyek untuk Kontribusi Norwegia (PMU-NC) pada hari Jumat melakukan penilaian rehabilitasi hutan dan lahan dalam program FOLU Net Sink 2030 di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Monitoring bersama ini mencakup 82,86 hektar lahan yang direhabilitasi, termasuk 17,26 hektar di desa Tanah Habang, Kecamatan Batang Alai Selatan, dan 65,6 hektar di desa Tapuk, Kecamatan Limpasu, menurut Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Alip Winarto, memimpin tim verifikasi lapangan di Hulu Sungai Tengah untuk mengevaluasi kondisi tanaman, tingkat pertumbuhan, dan perkembangan vegetasi di lokasi rehabilitasi.
“Kami meninjau lokasi-lokasi tersebut untuk memastikan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dilaksanakan sesuai peraturan dan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup tanaman, yang merupakan indikator kunci keberhasilan program,” kata Winarto.
Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur efektivitas upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh kelompok tani hutan setempat dan mengidentifikasi kebutuhan pemeliharaan untuk memastikan manfaat lingkungan dan sosial ekonomi jangka panjang.
“Kami berharap inisiatif ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan. Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas tutupan lahan, kelompok tani hutan di Hulu Sungai Tengah juga bisa mendapat tambahan penghasilan dari komoditas yang dikembangkan melalui kegiatan rehabilitasi,” ujar Winarto.
Di lokasi Tanah Habang, petani telah menanam karet IRR 112, durian Bawor, dan tanaman mahoni. Area rehabilitasi di desa Tapuk menampilkan karet IRR 112, durian Bawor, dan kelengkeng, yang dipilih karena nilai ekologis dan ekonomisnya.
Sebagian besar area rehabilitasi menggunakan sistem tumpang sari, menggabungkan jenis pohon dengan tanaman jangka pendek seperti cabai, tomat, terong, dan komoditas hortikultura lainnya.
Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan penghasilan jangka pendek sambil menunggu tanaman utama menjadi produktif, mendukung mata pencaharian di samping restorasi ekosistem.
Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan berharap kelompok tani yang berpartisipasi dalam program FOLU Net Sink 2030 fase II & III terus memelihara tanaman untuk mempertahankan hasil rehabilitasi dan brkontribusi pada target pengurangan emisi sektor kehutanan jangka panjang Indonesia.