Indonesia dan Malaysia Bentuk Satgas untuk Percepat Penempatan Pekerja Migran

Jakarta (ANTARA) –

Indonesia dan Malaysia sepakat membentuk satgas bersama untuk mempercepat penempatan pekerja migran Indonesia sekaligus memperkuat pengawasan dan perlindungan, terutama di negara bagian Sarawak, Malaysia, kata para pejabat pada Selasa.

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin menyatakan satgas tersebut akan fokus menekan keberangkatan non-prosedural dan memperketat pengawasan, setelah pembicaraan dengan Menteri Industri Sarawak Stephen Rundi Utom dan Wakil Menteri Imigrasi Gerawat Gala di Jakarta.

“Kami sepakat menangani masalah pekerja migran non-prosedural dan segera membentuk satgas khusus untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat,” kata Mukhtarudin dalam pernyataannya.

Kedua belah pihak juga berkomitmen pada reformasi regulasi untuk mempersingkat waktu administratif dan memperbaiki saluran penempatan resmi, bertujuan mengurangi migrasi tidak teratur dan memastikan pengiriman pekerja yang lebih cepat dan aman.

Indonesia telah memangkas proses penempatan dan verifikasi kerja menjadi 21 hari, ujar Mukhtarudin, menambahkan bahwa Sarawak setuju mempercepat penerbitan visa kerja menjadi 20 hari dari sebelumnya sekitar 30 hari.

Kerja sama ini akan mencakup berbagi data dan sinkronisasi database antar lembaga untuk mendukung pencocokan kerja yang efektif serta menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja Sarawak dengan program pelatihan Indonesia.

Pekerja yang menyelesaikan pelatihan akan memiliki kepastian kerja yang lebih jelas, kata Mukhtarudin, menyebut inisiatif ini bagian dari target “quick win” Presiden Prabowo Subianto untuk menempatkan 500.000 pekerja migran Indonesia pada 2026.

Menteri Industri Sarawak Stephen Rundi Utom mengatakan pekerja migran Indonesia sangat produktif, khususnya di sektor perkebunan, dan menekankan pentingnya meningkatkan sistem rekrutmen serta kesejahteraan pekerja agar kerja sama dapat berlanjut.

“Kualitas dan produktivitas pekerja Indonesia tidak tertandingi. Mereka sangat terampil, dan karena itu kami ingin terus memperbaiki sistem rekrutmen dan kesejahteraan mereka supaya kerja sama ini bisa berkelanjutan,” kata Stephen.

MEMBACA  Kondisi Keuangan Warga Indonesia: Tertekan Biaya Pendidikan dan Kenaikan Harga Sembako

Sarawak menghadapi permintaan tenaga kerja yang kuat di berbagai sektor, dari pekerjaan hulu yang berat secara fisik hingga peran profesional terampil di hilir, ujarnya. Ia mencatat bahwa populasi kecil dan wilayah luas negara bagian itu membuat kerja sama dengan Indonesia sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Berita terkait: Indonesia tuntut keadilan untuk Seni, pekerja migran yang dianiaya di Malaysia

Berita terkait: Indonesia akan bermitra dengan Malaysia untuk budaya Melayu-Islam

Berita terkait: Indonesia cari solusi atas tiga desa di perbatasan Malaysia

Penerjemah: Asri Mayang Sari, Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar