Rabu, 8 April 2026 – 23:08 WIB
Jakarta, VIVA – Country Manager Kaspersky untuk Indonesia, Defi Nofitra, mengatakan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi poin penting supaya Indonesia bisa punya sistem keamanan siber yang andal.
Menurutnya, saat ini talenta digital Indonesia yang khusus mendalami keamanan siber di jalur pendidikan masih belum mencukupi kebutuhan industri, terutama dunia bisnis yang sering hadapi masalah serangan siber.
"Saya ingin menyoroti dari sisi sumber daya. Perlu diakui bahwa Indonesia masih cukup rendah (SDM-nya). Artinya orang yang ngerti cybersecurity itu masih sedikit," katanya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia mengatakan perlu ada pengembangan dari sisi pendidikan agar kesadaran dan kebutuhan mengenai keamanan siber bisa tumbuh dengan baik di Indonesia.
Saat ini, menurutnya Indonesia hanya punya segelintir universitas yang secara khusus menjadikan keamanan siber sebagai jurusan pendidikan. Salah satunya adalah Telkom University di Bandung, Jawa Barat.
Kondisi di industri yang terjadi adalah para pekerja di bidang keamanan siber banyak diisi oleh lulusan yang tidak sesuai, seperti Teknik Elektro atau Teknik Mesin. Mereka biasanya hanya belajar keamanan siber secara mandiri.
Dengan kondisi itu, bisa dibilang Indonesia masih belum optimal dalam menjawab kebutuhan talenta digital di bidang keamanan siber untuk industri.
"Jadi mungkin banyak S1-nya mereka IT dan baru S2-nya cybersecurity. Kita jarang menemukan talenta yang dari S1-nya sudah diarahkan mendalami cybersecurity. Jadi misi kita salah satunya adalah untuk membangun talenta-talenta (keamanan siber) itu tadi," kata Defi.
Dalam hal masalah keamanan siber, Kaspersky mencatat pada 2023 secara global ada 370 ribu malware baru setiap harinya. Lalu dua tahun kemudian, di 2025, jumlah serangan siber sudah mencapai 500 ribu malware setiap hari.
Di Indonesia sendiri, di tahun 2025 tercatat ada serangan siber sebanyak 14.909.665 kali. Dengan total jumlah spyware yang diidentifikasi oleh Kaspersky mencapai 85.560.
Teridentifikasi juga bahwa 20 persen perusahaan di Indonesia mengalami serangan siber pada sistem rantai pasoknya di tahun lalu. Penyebab serangan siber itu ternyata salah satunya akibat celah dari pihak yang paling dipercaya oleh perusahaan.
Halaman Selanjutnya
Tercatat 22 persen perusahaan di Indonesia mengalami serangan siber akibat faktor celah relasi tersebut.