Kepercayaan investor global terhadap Indonesia terus tergerus akibat nilai tukar rupiah dan IHSG yang anjlok. FOTO/dok.SindoNews
JAKARTA – Kepercayaan investor global terhadap Indonesia semakin menurun seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang memicu fenomena “Jual Indonesia” alias “Sell Indonesia”. Situasi ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran soal arah kebijakan ekonomi pemerintah dan ketidakpastian dalam menjalankan berbagai program strategis nasional.
“Perdagangan besar saat ini di Asia adalah ‘Jual Indonesia’. Saya tidak punya eksposure sama sekali di Indonesia. Saya tidak akan kasih mereka kesempatan,” kata Kepala Riset K2 Asset Management, George Boubouras, yang sudah keluar dari semua posisinya di Indonesia sejak 2024 setelah investasi puluhan tahun, dikutip dari The Straits Times pada Minggu (7/6/2026).
Tekanan di pasar terlihat dari kinerja IHSG yang turun 36% dari rekor tertingginya cuma dalam lima bulan ter akhir, menjadikannya indeks dengan performa paling jelek di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg sepanjang 2026. Di saat yang sama, rupiah melemah lebih dari 7% dan sempat nembus level psikologis Rp18.000 pada 4 Juni lalu.
Pasar memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pelaku pasar melihat ada kemungkinan sekitar 45% rupiah melemah sampai Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun ini, dan 27% kemungkinannya menembus Rp20.000 per dolar AS dalam setahun ke depan.
Kekhawatiran investor terutama tertuju ke agenda ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dinilai lebih populis dan intervensi dibanding pemerintahan sebelumnnya. Sejak menjabat pada Oktober 2024, Prabowo meluncurkan bebrbagai program ambisius seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), perluasan peran negara dalam ekonomi, hingga penguatan dana kekayaan negara Danantara.