Selasa, 7 April 2026 – 17:32 WIB
Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia naik lagi di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pasar merespons keras pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengancam akan membombardir infrastruktur sipil Iran kalau Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Dua Kapal Tanker Qatar Ubah Haluan saat Mendekati Selat Hormuz, Ubah Tujuan ke Pakistan
Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak mentah.
Sentimen pasar juga dipicu ultimatum Trump kepada Teheran bahwa AS siap melumpuhkan infrastruktur penting Iran kalau tuntutannya tidak dipenuhi.
Deadline Trump Hampir Habis, Militer Israel Ancam Jalur Kereta Iran
Pada Senin, 6 April 2026, Trump bertekad akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 8 malam ET pada Selasa, 7 April 2026. Pernyataan ini ia lontarkan sambil memberi sinyal bahwa kepemimpinan Iran sedang bernegosiasi dengan itikad baik dengan pihaknya.
“Mereka punya waktu sampai besok. Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya bisa katakan, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan serius. Kita akan segera mengetahuinya,” ujar Trump.
Terungkap! Trump Buat Klaim Tidak Benar dan Tanpa Bukti Soal Perang Iran
Menurut laporan CNBC Internasional pada Selasa, 7 April 2026, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat naik 0,93 persen ke level US$113,46 atau sekitar Rp 1.884.507,36 (estimasi kurs Rp 17.080 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melonjak 0,54 persen menjadi US$110,36 atau sekitar Rp 1.886.052,40 per barel.
Trump membual dapat menghancurkan Iran dalam satu malam jika pemimpin Teheran gagal membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 telah memicu guncangan pasokan sehingga menyebabkan lonjakan harga, dari minyak mentah, avtur, solar, hingga bensin melonjak tajam akibat terganggunya distribusi energi global.
Chief Economic Strategist Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai tekanan dari AS akan terus meningkat seiring mendekati tenggat waktu. Menurutnya, selama jalur energi utama itu belum sepenuhnya pulih, harga minyak diperkirakan tetap berada dalam tekanan naik dan volatilitas tinggi. Pelaku pasar global kini menanti kejelasan nasib Selat Hormuz.
“Seiring mendekatnya tenggat, Trump ingin memberi tekanan lebih besar agar kesepakatan bisa segera tercapai,” tutur Jacobsen.
Halaman Selanjutnya
Di sisi lain, AS dan Iran dilaporkan sedang membahas kerangka kerja untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima minggu. Namun, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih kecil.