Kamis, 26 Maret 2026 – 00:26 WIB
Jakarta, VIVA – Harga emas global mengalami pemulihan bersamaan dengan penurunan harga minyak dunia. Hal ini meredakan kekhawatiran pasar tentang tekanan inflasi yang berkepanjangan. Sentimen ini muncul saat ada laporan bahwa Amerika Serikat (AS) sedang menyusun proposal perdamaian untuk Iran guna mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Harga emas spot tercatat naik hampir 2 persen ke level US$4.551,50 atau sekitar Rp 76,65 juta (kurs estimasi Rp 16.840 per dolar AS) untuk setiap troy ons dalam sesi perdagangan Rabu, 25 Maret 2026. Sementara itu, harga emas berjangka untuk pengiriman April melonjak lebih dari 3 persen ke level US$4.565,60 atau sekitar Rp 76,89 juta per troy ons.
Penguatan harga emas terjadi seiring dengan meredanya ketegangan di pasar energi. Harga minyak yang sebelumnya melonjak karena konflik di kawasan itu mulai turun, sehingga mengurangi kekhawatiran akan inflasi global yang selama ini membuat pasar tidak stabil.
Presiden AS, Donald Trump, mengklaim negaranya sedang bernegosiasi dengan Iran. Dia bahkan menyebutkan bahwa Teheran menunjukkan sinyal positif untuk mencapai kesepakatan damai.
Presiden AS Donald Trump (kiri), Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Kanan)
“Mereka sedang berbicara dengan kami, dan pembicaraan mereka masuk akal,” ujar Trump dalam pernyataannya di Oval Office yang dikutip dari CNBC Internasional, Kamis, 26 Maret 2026.
Trump juga memutuskan untuk menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena proses negosiasi ini. “Saya putuskan untuk menarik ancaman serangan karena fakta bahwa kami sedang bernegosiasi,” katanya.
Namun, Iran membantah adanya diskusi perdamaian dengan Washington.
“Seperti yang selalu kami katakan… tidak akan ada kesepakatan dengan Anda. Tidak sekarang. Tidak akan pernah,” tegas Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.
Pemerintah Teheran mengonfirmasi akan tetap membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang tidak bermusuhan. Jalur ini merupakan rute penting pengiriman minyak dunia yang sempat terganggu hampir empat minggu sejak konflik pecah.
“Kapal-kapal non-hostile yang tidak terlibat dalam operasi agresif terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan dapat melintas dengan aman melalui Selat Hormuz,” tulis pemerintah Iran dalam pernyataan resminya.
Co-head Riset Komoditas Global Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan bahwa kenaikan ekspektasi suku bunga dan gejolak pasar adalah faktor utama yang sebelumnya menekan harga emas.
Dia menambahkan, kenaikan ekspektasi suku bunga juga menekan permintaan dari investor, terutama melalui ETF berbasis emas yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.
“Kami tidak melihat penurunan ini sebagai sesuatu yang mengejutkan, jika mengacu pada kerangka harga yang kami gunakan,” kata Struyven.