Generasi Z Memandang Pekerjaan Layaknya ‘Situationship’, Apa Maknanya?

Senin, 12 Januari 2026 – 16:45 WIB

Jakarta, VIVA – Generasi Z atau pekerja yang lahir antara 1997 sampai 2012, membawa cara pandang baru di dunia kerja. Berbeda dari generasi sebelumnya, mereka tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa dengan informasi instan, fleksibilitas, dan mobilitas tinggi.

Baca Juga:
Marinus Gea Tegaskan ESG Bukan Beban, tapi Sumber Nilai Perusahaan

Hal ini juga mempengaruhi cara mereka menilai pekerjaan dan hubungan dengan perusahaan.

Dalam kondisi ekonomi yang menantang dan biaya hidup makin tinggi, Gen Z punya prioritas berbeda. Bukan cuma loyalitas pada satu perusahaan, tetapi juga pengalaman, gaji, dan keseimbangan kesehatan mental. Tren ini terlihat jelas dari survei terbaru Gateway Commercial Finance.

Baca Juga:
Petuah Warren Buffett untuk Job Seeker, Ungkap Ada yang Lebih Penting dari Sekadar Gaji

Survei yang melibatkan lebih dari 1.008 responden (separuh Gen Z, separuh manajer atau pekerja berpengalaman rekrutmen) mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 58% responden memandang pekerjaan mereka seperti ‘situationship’. Artinya, pekerjaan dianggap hubungan jangka pendek dengan komitmen rendah yang tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Hampir setengah Gen Z (47%) menyatakan berencana meninggalkan pekerjaan dalam satu tahun pertama.

Baca Juga:
WEF Bocorkan Masa Depan Dunia Kerja 2030, Benarkah AI Bakal Gantikan Pekerja Manusia Secara Massal?

Bahkan, banyak yang siap resign kapan saja jika ada peluang lebih menarik. Survei menunjukkan hanya 25% Gen Z yang benar-benar melihat peran mereka sebagai kesempatan jangka panjang, sementara 37% melihat pekerjaan hanya sebagai sumber gaji.

Masih dari survei yang sama, 55% menyebut gaji lebih tinggi di tempat lain sebagai faktor utama. Selain itu, 34% melaporkan mengalami kesehatan mental yang buruk atau burnout, dan 22% merasa tidak dihargai atau diakui di tempat kerja.

MEMBACA  Yoona SNSD Menyiapkan 2 Alarm Sahur Spesial untuk Penggemar di Indonesia

Kurangnya loyalitas jangka panjang ini jadi perhatian perusahaan. Satu dari empat manajer menganggap pengalaman kerja singkat (kurang dari setahun) di CV Gen Z sebagai red flag. Lebih dari sepertiga mengaku pernah menolak kandidat karena kebiasaan sering pindah kerja (job-hopping).

Fenomena ini memaksa perusahaan menyesuaikan strategi rekrutmen, termasuk menawarkan budaya kerja yang lebih fleksibel dan penghargaan yang nyata. Meski terlihat sering pindah-pindah, Gen Z tetap peduli pada kestabilan keuangan.

Studi Better Money Habits Bank of America 2025 mencatat 72% Gen Z mengambil langkah untuk memperbaiki kesehatan keuangan mereka sepanjang tahun. Namun, dukungan finansial dari keluarga menurun, jadi hanya 39% dibanding 46% di tahun 2024.

Halaman Selanjutnya

“Mereka menantang stereotip tentang generasi muda dan keuangan. Meskipun menghadapi hambatan ekonomi dan biaya hidup tinggi, mereka bekerja keras untuk mandiri secara finansial dan mengelola uang mereka sendiri,” kata Holly O’Neill, Presiden Consumer, Retail, dan Preferred Banking Bank of America, seperti dikutip dari Independent, Senin, 12 Januari 2026.

Tinggalkan komentar