Di Lumajang, Jawa Timur, sebuah pertunjukan tari kolosal bernama Segoro Topeng Kaliwungu melibatkan sekitar 500 siswa penari. Acara ini menjadi ajang untuk melestarikan budaya lokal dan memperkuat sektor pariwisata di daerah tersebut.
Pertunjukan digelar di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, pada hari Minggu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyatakan bahwa Segoro Topeng Kaliwungu bukan hanya acara pelestarian budaya. “Ini juga inisiatif yang bisa memperkuat pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Mengusung tema “Lamadjang: The Land of Glory”, pertunjukan ini menggambarkan sejarah lahirnya Bumi Lamadjang melalui perpaduan tari, musik, dan tradisi budaya Lumajang.
Menurut Indah, acara ini memberikan kesempatan penting untuk memperkenalkan warisan budaya Lumajang ke khalayak nasional lewat KEN. Ia menambahkan, kepercayaan dari pemerintah pusat membawa tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya takbenda daerah.
“Kami diberi kesempatan oleh Kementerian Pariwisata untuk memperkenalkan cerita-cerita Indonesia melalui budaya. Karena itu, kami harus menjaga dan terus mengembangkan warisan budaya takbenda sebagai komitmen sebagai tuan rumah KEN,” ujarnya.
Indah juga menekankan bahwa pelestarian Tari Topeng Kaliwungu akan dilanjutkan melalui program pendidikan agar generasi muda lebih mengenal warisan budaya mereka.
Bupati menyambut baik respon masyarakat. Pengunjung datang dari Bali, berbagai daerah lain, bahkan dari Spanyol, Perancis, China, dan Slovakia. Seorang wisatawan asal Slovakia, Mery, memuji penampilan tari tersebut.
“Saya senang bisa menonton langsung. Pertunjukannya sungguh luar biasa. Semua penari mudanya saya suka,” katanya.
Festival ini melibatkan sekitar 500 siswa SD, SMP, dan SMA yang menampilkan Tari Topeng Kaliwungu sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya Lumajang.