Dua Negara Bertahan saat Selat Hormuz Lumpuh, Andalkan Kekuatan Energi Terbarukan

Jumat, 13 Maret 2026 – 19:23 WIB

Jakarta, VIVA – Negara yang memproduksi lebih banyak listrik dari angin, matahari, dan sumber terbarukan lainnya terbukti lebih tahan terhadap guncangan energi global. Begitu penilaian para ahli di tengah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah.

Perang terus meluas sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Infrastruktur energi di kawasan itu menjadi sasaran, dan ancaman serangan balasan Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital yang biasa dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Gangguan ini membuat bahan bakar sulit sampai ke negara-negara yang membutuhkannya untuk pembangkit listrik, pemanas rumah, industri, hingga transportasi. Harga pun melonjak di mana-mana dan tekanan biaya hidup berpotensi semakin berat.

"Energi adalah nadi masyarakat dan industri kita," kata Antony Froggatt, pakar energi dari NGO Transport & Environment yang berbasis di Brussels, Belgia, seperti dikutip dari situs DW, Jumat, 13 Maret 2026. "Dan kita masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil."

Dunia saat ini masih memperoleh sekitar 80 persen energi primernya dari bahan bakar fosil, sumber utama emisi gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim. Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap guncangan geopolitik, kata Rana Adib, Sekretaris Eksekutif Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk Abad ke-21 (REN21).

Negara-negara dengan porsi energi terbarukan "buatan sendiri" yang lebih besar dalam bauran energinya dinilai "lebih tahan terhadap guncangan semacam ini".

Teknologi energi hijau seperti turbin angin, panel surya, dan baterai memang memiliki rantai pasok global yang juga bisa terdampak ketegangan geopolitik. Namun, energi yang dihasilkannya biasanya berasal dari dalam negeri sendiri.

MEMBACA  Danur Merengkuh Satu Dekade di Momen Lebaran, Prilly Latuconsina Sampaikan Surat Haru untuk Peter dan Kawan-kawan

"Begitu teknologinya sudah ada di suatu negara, bahan bakar yang dipakai adalah Matahari, angin, panas Bumi yang semuanya lokal," kata Adib. "Itulah mengapa energi terbarukan jauh lebih tahan terhadap guncangan global."

Kekhawatiran soal ketergantungan pada impor minyak dan gas pascakrisis keuangan 2008 mendorong Uruguay untuk serius beralih ke energi terbarukan.

Dua dekade lalu, negara kecil Amerika Selatan dengan 3,5 juta penduduk ini mulai merancang rencana besar untuk menyingkirkan bahan bakar fosil dari jaringan listriknya dengan cara memperluas ladang angin secara agresif.

Hasilnya, lebih dari 90 persen listrik Uruguay kini berasal dari energi terbarukan, terutama angin, Matahari, tenaga air, dan biofuel. Angka itu bahkan mencapai 98 persen di tahun-tahun dengan curah hujan dan kecepatan angin yang tinggi.

Halaman Selanjutnya

Tinggalkan komentar