loading…
Pergerakan harga emas dunia mengalami tekanan tajam seiring meningkatnya minat investor terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di tengah ketidakpastian global. Foto/Dok
JAKARTA – Pergerakan harga emas dunia mengalami tekanan tajam seiring meningkatnya minat investor terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di tengah ketidakpastian global. Analis Keuangan Ibrahim Assuaibi menilai, pergeseran arus investasi ini menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Pada penutupan hari perdagangan akhir pekan, harga emas dunia tercatat turun ke level USD4.497,37 per troy ons. Penurunan ini juga berdampak pada harga logam mulia di dalam negeri yang ikut melemah ke kisaran Rp2.893.000 per gram.
Menurut Ibrahim, kondisi ini menunjukan perubahan preferensi investor global yang mulai berpindah dari emas sebagai aset safe haven dalam jangka pendek dan beralih ke Dolar AS. Penguatan indeks dolar yang diproyeksikan menuju level 101,20 menjadi indikator kuat bahwa mata uang tersebut kembali diminati pasar.
Baca Juga: Heboh Fenomena War Emas di JCC, Pengamat Sebut Bukan Fomo
“Investor saat ini cenderung beralih ke dolar AS sebagai safe haven, sehingga menekan harga emas dunia.” ujar Ibrahim kepada awak media, Minggu (22/3/2026).
Selain faktor dolar, kenaikan harga energi juga turut memperburuk tekanan terhadap emas. Harga crude oil diperkirakan bergerak di kisaran USD93,3 per barel hingga USD107,1 per barel. Sementara Brent crude oil menunjukkan potensi kenaikan yang lebih tinggi di level USD110 hingga USD116.
Lonjakan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang akhirnya mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. “Ini sebenarnya membuat harga emas menjadi tergelincir, dan investor itu pindah ke safe haven-nya yaitu dolar. Karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil, tapi Brent crude oil, yang berdampak terhadap inflasi,” sambung Ibrahim.