Kamis, 9 April 2026 – 21:00 WIB
Jakarta, VIVA – Industri hiburan global lagi-lagi diguncang berita soal efisiensi besar yang dilakukan salah satu perusahaan media raksasa. Di tengah tekanan bisnis *streaming* dan perubahan internal, langkah pengurangan karyawan kembali jadi pilihan untuk menjaga keuntungan perusahaan di era persaingan yang makin ketat.
Gelombang PHK Sektor Teknologi Makin Ganas, 52 Ribu Pekerja Tersingkir Gara-gara AI
Disney disebutkan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sampai 1.000 karyawan dalam beberapa bulan kedepan. Kebijakan ini adalah langkah awal pengurangan di bawah pimpinan CEO baru Josh D’Amaro, yang baru saja mengambil alih posisi pimpinan di perusahaan itu.
“Disney berencana untuk mem-PHK hingga 1.000 karyawan dalam beberapa bulan mendatang,” seperti dikutip dari laporan Deadline, Kamis, 9 April 2026.
Oracle PHK 30.000 Karyawan, Tapi Malah Buru Ribuan Tenaga Asing
Langkah ini disebut sebagai bagian dari usaha efisiensi yang berlanjut, setelah sebelumnya perusahaan melakukan penggabungan besar di berbagai bagian, termasuk pemasaran, hiburan, dan operasi global. Perubahan struktur ini juga terkait strategi untuk mengurangi pekerjaan yang berulang-ulang di dalam perusahaan.
“Ini adalah pengurangan pertama yang dilakukan raksasa hiburan ini sejak penunjukan CEO baru Josh D’Amaro,” lanjutnya. Meski jumlah PHK kali ini lebih kecil dibandingkan sebelumnya, keputusan ini tetap menarik perhatian karena menandai arah kebijakan awal dari CEO baru.
BYD PHK 100.000 Karyawan Padahal Lagi Jaya-jayanya
Perlu dicatat, dalam beberapa tahun terakhir, Bob Iger sebelumnya sudah melakukan pemotongan ribuan karyawan sebagai bagian dari program penghematan biaya yang besar.
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa total karyawan Disney mencapai lebih dari 230.000 orang di seluruh dunia, dengan banyak di antaranya bekerja di taman hiburan dan sebagai karyawan paruh waktu. Artinya, meski PHK ini cuma menyentuh sebagian kecil dari total karyawan, dampaknya tetap penting bagi operasional dan suasana kerja di dalam perusahaan.
Dalam gelombang restrukturisasi sebelumnya, Disney sudah menargetkan penghematan miliaran dolar lewat efisiensi di berbagai bidang bisnis. Tapi, tekanan di industri hiburan yang berubah cepat, terutama karena peralihan ke layanan *streaming* dan penurunan keuntungan di beberapa bagian, membuat perusahaan terus melakukan penyesuaian.
Keputusan ini juga sejalan dengan tren yang lebih luas di industri media dan teknologi, di mana banyak perusahaan besar melakukan efisiensi tenaga kerja untuk menjaga kestabilan keuangan di tengah biaya operasi yang naik dan ketidakpastian pasar global.
Halaman Selanjutnya
Ke depan, pasar akan melihat apakah langkah awal di bawah CEO baru ini akan berlanjut menjadi restrukturisasi yang lebih mendalam, atau justru menjadi titik stabilisasi setelah periode panjang pengurangan di tubuh Disney.