Di Balik Tembok Sekolah, Pelajaran Ketahanan Pangan Dimulai di Pedesaan Jawa

Kediri, Jawa Timur (ANTARA) – Bel sudah berbunyi menandakan akhir pelajaran, namun beberapa siswa masih tertinggal. Sebagian memeriksa kandang ayam. Yang lain memberi makan sapi dan domba. Beberapa bergerak tenang di antara bedengan sayuran, merawat tanaman sebelum senja tiba.

Ini adalah rutinitas sore di SMKN 1 Plosoklaten, Kediri, Jawa Timur, di mana pembelajaran tidak berhenti di pintu kelas tetapi berlanjut ke kandang, ladang, dan kolam ikan.

Di sini, siswa bekerja dalam tim sesuai jurusannya, bertanggung jawab atas ternak atau tanaman yang meniru usaha pertanian nyata, memadukan pendidikan formal dengan tanggung jawab sehari-hari dan penyelesaian masalah secara langsung.

Bagi Aditya Mahendra, siswa kelas 11, memilih jurusan peternakan bukanlah kebetulan. Itu mencerminkan kesukaan masa kecilnya pada hewan dan keinginan untuk mempelajari keterampilan yang bisa langsung meningkatkan penghidupan keluarganya.

Di sekolah, Aditya melakukan lebih dari sekadar membaca buku. Dia membersihkan kandang, menyiapkan pakan, memantau kesehatan hewan, dan mengamati pola pertumbuhan—keterampilan yang tidak bisa diajarkan sepenuhnya hanya lewat ujian tertulis.

Setiap hari, dia membantu merawat puluhan domba berbagai ras, memastikan mereka diberi makan dengan benar dan ditempatkan dalam kondisi bersih untuk menghasilkan ternak yang sehat dan siap jual.

Sekolah menghilangkan kendala logistik yang sering membatasi pelatihan vokasi. Area khusus untuk menanam rumput di dalam kampus menyediakan pakan ternak, menghilangkan kebutuhan untuk membeli pakan jadi.

Pengaturan itu memungkinkan siswa seperti Aditya untuk fokus memelihara hewan daripada mencari bahan, sekaligus menguatkan kedisiplinan, konsistensi, dan rasa tanggung jawab.

Bagi Aditya, beternak domba bukan cuma tugas sekolah. Itu langsung meningkatkan cara dia mengelola delapan kambing yang dipelihara keluarganya di rumah.

MEMBACA  Pelajaran dari Kemenangan Juventus atas AS Roma

“Saya senang di sini karena belajar beternak dengan benar,” katanya. “Saya bisa menerapkan ilmu dari sekolah langsung di rumah.”

Selain domba, siswa mendapat pelajaran tentang pemeliharaan sapi, termasuk formulasi pakan dan teknik pemerahan, mempersiapkan mereka untuk beragam usaha ternak.

Kesehatan hewan juga ditekankan, dengan pelajaran praktik mencakup pencegahan penyakit, deteksi dini, dan penanganan dasar—keterampilan penting di komunitas pertanian pedesaan.

Di sisi pertanian, Adinda, siswa kelas 10, adalah bagian dari ekosistem belajar yang berbeda, yang berakar pada tanah, bukan kandang.

Setiap kelas agrkultur dibagi menjadi tim berisi 10 siswa, masing-masing bertanggung jawab atas tanaman tertentu yang dibudidayakan di lahan sekolah.

Kelompok Adinda membudidayakan daun bawang, mengelola seluruh siklus dari penanaman, pemupukan, pengairan, hingga panen.

Bedengan mereka berada di lahan yang ditinggikan untuk hindari genangan air, didukung bangunan dan infrastruktur yang dirancang meniru kondisi pertanian nyata.

Pada usia baru satu bulan, tanaman daun bawang sudah menunjukkan pertumbuhan yang baik, hasil dari perencanaan dan perawatan harian oleh siswa.

“Semua benih dan pupuk disediakan,” kata Adinda. “Tugas kami adalah menanam dengan baik sampai siap dijual.”

Insentif itu penting. Sekolah telah menjanjikan siswa bagian dari keuntungan penjualan hasil panen, memperkuat jiwa kewirausahaan di samping keterampilan teknis.

Pendekatan itu mencerminkan visi Kepala Sekolah Hadi Sugiharto, yang memimpin sekolah sejak 2024 dengan penekanan jelas pada pendidikan praktis.

Sugiharto yakin sekolah vokasi harus melampaui teori, menghasilkan lulusan yang siap kerja, berinovasi, dan beradaptasi dalam kondisi ekonomi riil.

Di bawah kepemimpinannya, SMKN 1 Plosoklaten memperluas program praktik di semua jurusan, menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan ekonomi lokal.

Siswa pertanian membudidayakan tanaman seperti daun bawang dan terong, sementara siswa peternakan mengelola domba, sapi, ayam omega-egg, dan sistem akuakultur.

MEMBACA  Prabowo Berjanja Merenovasi 60 Ribu Sekolah pada 2026

Lahan sekolah seluas 10 hektar berfungsi sebagai laboratorium hidup, mengintegrasikan pelajaran kelas dengan kegiatan produksi harian.

Sekitar 1.600 siswa dilatih untuk memahami sistem pangan dari dasar, menggunakan bahan baku lokal untuk memperkuat ketahanan pangan.

Sugiharto menyebut sekolah juga memfasilitasi magang selama 18 minggu, memungkinkan siswa mendalami keterampilan lewat pengalaman di industri.

Kemitraan dengan instansi pemerintah daerah semakin memperkuat peran sekolah sebagai pusat pendidikan vokasi regional.

Dia mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang meluncurkan program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP), yang mendukung upaya swasembada pangan nasional mulai dari tingkat sekolah.

Laboratorium Ketahanan Pangan

Di bawah Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur memosisikan sekolah sebagai laboratorium ketahanan pangan melalui SIKAP.

Program ini bertujuan menumbuhkan bakat muda yang mampu mendukung tujuan jangka panjang Indonesia meraih kemandirian pangan, yang pernah tercapai di era mantan presiden Soeharto.

Untuk promosikan SIKAP, gubernur baru-baru ini memimpin kegiatan penanaman, tebar benih ikan, dan panen besar-besaran yang melibatkan ribuan guru dan siswa se-Jawa Timur.

Pesertanya mencakup siswa dari SMA umum dan berkebutuhan khusus, menggarisbawahi pendekatan inklusif program ini.

SIKAP mendefinisikan ulang sekolah bukan hanya sebagai pusat pengajaran akademik, tapi mengubahnya jadi ruang strategis untuk kesadaran ketahanan pangan.

Siswa mendapat pengalaman langsung menanam, memanen, mengolah hasil, dan mengelola ternak, menghubungkan tujuan kebijakan abstrak dengan praktik sehari-hari.

Program ini sejalan dengan agenda swasembada pangan pemerintah pusat, salah satu pilar misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Prabowo menempatkan kemandirian pangan di jantung strategi pembangunan nasional.

Hasilnya sudah terlihat. Pada Desember 2025, baru satu tahun pemerintahan Prabowo, Indonesia mendeklarasikan swasembada beras.

MEMBACA  Mantan Staf Khusus Nadiem Kembali Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Korupsi Chromebook, Tetap Bungkam Saat Tiba

Pencapaian itu signifikan bagi negara dengan sekitar 280 juta jiwa, di mana beras tetap jadi makanan pokok sehari-hari sebagian besar rumah tangga.

Program SIKAP Jawa Timur semakin dipandang sebagai model yang bisa direplikasi di seluruh negeri.

Dengan menyisipkan pelajaran ketahanan pangan di sekolah, provinsi ini menggerakkan siswa bukan hanya sebagai pelajar, tapi juga sebagai produsen, inovator, dan pelindung sistem pangan Indonesia di masa depan.

Saat matahari terbenam di SMKN 1 Plosoklaten, para siswa menyelesaikan pekerjaannya dan pulang, membawa lebih dari sekadar pekerjaan rumah.

Mereka pulang dengan keterampilan praktis, rasa kepemilikan, dan pemahaman tenang bahwa ketahanan pangan nasional dimulai dari tindakan kecil yang disiplin—seringkali setelah bel sekolah berbunyi.

Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar