Jakarta (ANTARA) – Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono telah menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk mendukung perdamaian di Palestina melalui keikutsertaannya dalam Board of Peace (BoP).
Berbicara di Bad Ragaz, Swiss, pada Jumat, Sugiono mengatakan BoP adalah badan internasional yang dibentuk untuk mengawasi upaya stabilisasi dan rehabilitasi pasca-konflik di Gaza.
“Penandatanganan Piagam Board of Peace merupakan bagian dari proses berkelanjutan yang telah kami lakukan untuk menyelesaikan konflik, mencapai perdamaian, dan melaksanakan rehabilitasi pasca-konflik di Palestina, khususnya di Gaza,” ujar Sugiono dalam pernyataan yang dirilis Sekretariat Presiden di Jakarta.
Saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) di Davos, menteri luar negeri itu menyebutkan salah satu agenda penting presiden adalah penandatanganan Piagam BoP.
Dia menggambarkan langkah ini sebagai puncak dari serangkaian panjang dialog dan pertemuan antara sejumlah negara, khususnya negara-negara Islam dan berpenduduk mayoritas Muslim, mengenai situasi di Palestina.
Menurut Sugiono, kesepakatan untuk membentuk BoP berawal dari tekad bersama untuk melibatkan masyarakat internasional secara lebih konkret dalam mencapai perdamaian abadi di Gaza.
Pembahasan dilanjutkan melalui pertemuan-pertemuan lanjutan, yang berpuncak pada pertemuan di Sharm El Sheikh, Mesir, yang menandai penandatanganan piagam Board of Peace.
“Board of Peace adalah badan internasional—yang kini resmi berdiri—bertugas memantau upaya administrasi, stabilisasi, dan rehabilitasi khususnya di Gaza, dan lebih luasnya di Palestina,” jelasnya.
Sugiono menambahkan bahwa Indonesia memandang partisipasi dalam BoP sangat penting, mengingat dukungannya yang sudah lama dan konsisten untuk perdamaian dan stabilitas internasional, terutama terkait Palestina.
Meskipun pembentukan badan ini berjalan relatif cepat, dia mengatakan Presiden Prabowo memutuskan Indonesia harus bergabung dengan BoP setelah mempertimbangkan berbagai faktor strategis.
“Dari awal, Indonesia adalah negara yang sangat peduli pada perdamaian dan stabilitas internasional, terutama terkait situasi di Palestina. Karena Board of Peace merupakan bagian dari upaya mencapai perdamaian itu, kita harus terlibat,” kata Sugiono.
Dia mencatat bahwa keputusan itu juga diambil setelah konsultasi intensif dengan negara-negara yang tergabung dalam Kelompok New York.
Sugiono menyebutkan beberapa negara setuju untuk bergabung dengan BoP, antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turki, Pakistan, Mesir, dan Indonesia.
“Dua hari sebelum penandatanganan, semua pihak sepakat untuk bergabung dalam Board of Peace,” ujarnya.
Menteri luar negeri itu menyatakan keyakinannya bahwa BoP merupakan langkah konkret yang dinantikan untuk mengawasi proses perdamaian Palestina.
Dia berharap partisipasi negara-negara ini dapat memastikan semua tindakan yang diambil tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan terwujudnya solusi dua negara.
“Memastikan bahwa upaya yang dilakukan Board of Peace tetap fokus pada kemerdekaan Palestina dan pencapaian solusi dua negara,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, Sugiono menekankan bahwa BoP tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Badan ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan PBB. Ini adalah badan internasional yang lahir dari kepedulian untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas, khususnya di Gaza. Untuk alasan itulah, Indonesia memutuskan untuk mengambil bagian,” pungkasnya.