Senin, 5 Januari 2026 – 13:20 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan inflasi di akhir tahun kembali menarik perhatian seiring naiknya aktivitas ekonomi dan adanya gangguan distribusi di beberapa wilayah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tekanan harga terjadi secara merata di semua provinsi pada Desember 2025, meski tingkat inflasinya beragam antar daerah.
Baca Juga:
Inflasi Desember 2025 Capai 0,64 Persen, Cabai Rawit hingga Telur Ayam Penyumbang Terbesar
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa pada Desember 2025 terjadi inflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan (month to month). Artinya, ada kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,22 di November 2025 menjadi 109,92 di Desember 2025.
"Secara year-on-year dan year-to-date, inflasi nasional tercatat sebesar 2,92 persen," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (5/1/2026).
Baca Juga:
Neraca Dagang RI Surplus US$2,66 Miliar di November 2025, Rekor 67 Bulan Berturut-turut
Kelompok pengeluaran untuk makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan yang paling besar. "Kelompok pengeluaran yang menyumbang inflasi terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,66 persen dan memberikan andil sebesar 0,48 persen," jelas Pudji.
Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi di kelompok itu antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, dan telur ayam ras.
BPS juga mencatat bahwa semua provinsi mengalami inflasi bulanan di Desember 2025. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh.
"Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 3,60 persen," kata Pudji. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Maluku Utara sebesar 0,05 persen.
Secara khusus, BPS mencatat bahwa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami inflasi pada Desember 2025 setelah sebelumnya mengalami deflasi di November 2025. Ketiga provinsi ini masuk dalam kelompok wilayah dengan tingkat inflasi paling tinggi.
BPS menyebutkan, kenaikan harga di wilayah-wilayah tersebut dipicu oleh dampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025, yang memengaruhi ketersediaan dan distribusi komoditas pangan.
Untuk Aceh, inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga beras. Sementara inflasi di Sumatera Utara didorong oleh cabai rawit, dan di Sumatera Barat oleh bawang merah. Secara umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di ketiga provinsi itu.
Secara tahunan, BPS mencatat seluruh provinsi juga mengalami inflasi pada Desember 2025. "Sebaran inflasi tahunan menurut wilayah, kita bisa lihat bahwa semua provinsi mengalami inflasi dan yang tertinggi terjadi di Aceh yaitu sebesar 6,71 persen," ujar Pudji.
Sementara itu, inflasi tahunan terendah tercatat di Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen. BPS menambahkan, secara historis inflasi pada bulan Desember cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.