Minggu, 22 Februari 2026 – 04:10 WIB
Jakarta, VIVA – Sosok Ci Mehong kembali menjadi bahan pembicaraan publik. Perempuan yang dikenal dengan gaya uniknya berjualan kue itu membuat pengakuan mengejutkan tentang kehidupan rumah tangganya.
Dalam pernyataannya, Ci Mehong mengaku ingin mengajukan gugat cerai terhadap suaminya setelah 15 tahun membina rumah tangga. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ia merasa selama ini menjadi pihak yang terus-terusan terbebani secara finansial, alias diporotin. Scroll ke bawah untuk baca artikel lengkapnya.
Diketahui, suami yang kini bersamanya adalah suami kedua. Saat menikah, sang suami sudah punya dua anak dari pernikahan sebelumya. Kini, kedua anak tersebut telah berusia dewasa. Namun menurut Ci Mehong, masalah justru muncul karena urusan keuangan yang berkaitan dengan anak-anak tersebut.
“Sudah nggak tahan diplorotin. Diplorotin itu bukan buat dia pribadi tapi buat anaknya. Anaknya itu udah gede umur 26 sama 29 tahun,” ungkap Ci Mehong dalam sebuah tayangan TV.
Ia mengungkap bahwa di awal pernikahan, dirinya masih bisa memaklumi kondisi itu. Saat itu, anak-anak sang suami dinilai masih kecil sehingga wajar butuh bantuan. Tapi situasi sekarang sudah berbeda.
“Saya pikir kalo kita balik ke umur 15 tahun lalu ya kita pikir masih kecil nggak apa-apa. Tapi kalo itu kan sudah dewasa,” ujarnya lagi.
Menurutnya, usia 26 dan 29 tahun seharusnya sudah cukup matang untuk mandiri secara finansial. Hal inilah yang bikin ia merasa keberatan ketika kebutuhan mereka masih terus dibebankan padanya.
Tidak hanya itu, Ci Mehong juga mengungkap ada persoalan lain yang memperkeruh suasana rumah tangga. Ia mengaku mengalami tekanan sejak setahun terakhir.
“Sejak setahun ini sih udah gitu ngejelek-jelekin saya, minjam duit. Suami saya minjam duit ke orang lain bawa nama saya bahwa saya tuh nggak kasih dia,” jelasnya.
Lebih jauh, ia memaparkan kondisi ekonomi suaminya saat ini. Disebutkan bahwa sang suami sebelumnya sempat bekerja, tapi kini sudah tidak lagi. Meski sempat memiliki aset dan dijual untuk biaya hidup, tetap saja tidak mencukupi.
“Nggak bekerja. Tadinya bekerja, tadinya punya aset, ada aset dijual jadi buat biayain hidup. Tapi namanya lebih besar pasak daripada tiang,” ujarnya lagi.