China Mengisi Kekosongan Militer di Afrika, Penjualan Senjata Melonjak

loading…

China mengisi kekosongan militer di Afrika setelah pasukan Prancis hengkang dari kawasan Sahel. Penjualan senjata China ke benua tersebut juga melonjak. Foto/Kementerian Pertahanan Mali

JAKARTA – Penarikan pasukan Prancis dari Sahel dan berkurangnya ekspor senjata Rusia karena perang di Ukraina telah menciptakan apa yang disebut para analis sebagai “kekosongan militer” di Afrika Barat dan Tengah. Tapi kekosongan itu tidak lama, karena China bergerak cepat untuk memperkuat posisinya.

Perubahan ini mulai terjadi setelah serangkaian kudeta di Burkina Faso, Mali, dan Niger sejak tahun 2020. Gejolak ini merusak kemitraan keamanan jangka panjang, terutama dengan Perancis.

Baca Juga: 4 Tahun Perang Rusia-Ukraina, UE Sebut China Terus Dukung Moskow

Misi kontra-terorisme Prancis, yang dulunya merupakan pilar utama keamanan di kawasan, telah berakhir secara bertahap. Sementara itu, Rusia yang fokus pada perang di Ukraina, kesulitan untuk mempertahankan pengiriman senjata dan dukungan seperti sebelumnya kepada klien-kliennya.

Seperti dikutip dari Mekong News, Jumat (27/2/2026), penilaian dari industri pertahanan China secara terbuka mengakui transisi ini. Sebuah laporan di “China Military to Civilian” bulan Januari lalu, yang diterbitkan oleh badan administrasi pertahanan nasional, menyebut kepergian Prancis menciptakan “ruang” bagi perluasan perdagangan militer China.

Laporan yang dikaitkan dengan perusahaan ekspor senjata milik negara China, menyatakan bahwa Beijing memanfaatkan sistem berbiaya rendah dan pembiayaan yang fleksibel untuk masuk ke pasar Afrika.

Pergantian di Pasar

Istilah dalam analisis China, yaitu “substitusi pasar”, punya arti penting. Seiring berkurangnya ketergantungan pada persenjataan Prancis dan Rusia, pola pembelian beralih ke peralatan buatan China, khususnya untuk drone, kendaraan lapis baja, dan senjata ringan.

Baca Juga: Dominasi AS dan Prancis Melemah, Kini Giliran China Mencengkeram Afrika

MEMBACA  Tarif terhadap China Tetap Tinggi Secara Historis Sembari Trump Puji Kesepakatan Dagang Baru

Tinggalkan komentar