Calciopoli, Poin Kontroversial Bhayangkara FC, hingga Kejutan Juara Timnas Maroko

Kamis, 19 Maret 2026 – 11:02 WIB

Jakarta, VIVA – Sejarah sepak bola tak cuma ditulis di lapangan hijau, tapi juga di ruang sidang komite disiplin. Pelanggaran aturan, pengaturan skor, hingga masalah administrasi sering bikin trofi yang sudah diraih harus berpindah tangan atau bahkan dibatalkan.

Berikut beberapa kasus terkenal tentang “Juara Meja Hijau” di dunia sepak bola:

1. Drama Piala Afrika 2025: Kenapa Timnas Maroko Gantikan Timnas Senegal?
Keputusan CAF yang mencabut gelar Senegal cuma 57 hari setelah mereka menang jadi sorotan global. Ini akibat kejadian dramatis di final. Pertandingan yang awalnya dimenangi Senegal 1-0 akhirnya dihapus dari catatan dan diubah jadi kemenangan 3-0 buat Maroko.

Masalahnya mulai di akhir babak normal saat skor masih 0-0. Wasit memberi penalti ke Maroko, keputusan yang bikin Senegal marah besar. Para pemain Senegal mogok dan keluar lapangan (walk-off) sehingga pertandingan berhenti hampir 20 menit. Aksi mogok ini dianggap CAF melanggar aturan, sehingga gelar Piala Afrika diberikan ke Maroko.

2. Marseille 1993: Gelar Dicabut dan “Kekosongan” dalam Sejarah
Kasus Olympique de Marseille musim 1992/93 termasuk yang paling terkenal di Eropa. Mereka juara Ligue 1 di lapangan, tapi gelarnya dicabut setelah terungkap skandal suap.

Yang unik, gelar itu tidak diberikan ke siapa-siapa. Paris Saint-Germain (PSG) yang jadi runner-up waktu itu menolak menerima gelar tersebut. Alhasil, musim 1992/93 resmi berakhir tanpa juara, meninggalkan “lubang” dalam arsip sejarah sepak bola Prancis.

3. Shanghai Shenhua (China) dan Skandal Pengaturan Skor
Di Asia, China juga pernah alami hal serupa. Shanghai Shenhua dinyatakan juara Liga China tahun 2003. Tapi, bertahun-tahun kemudian, penyelidikan mengungkap ada praktik pengaturan skor yang sistematis. Akibatnya, gelar juara mereka dicabut meski kejadiannya sudah lama.

MEMBACA  Cedera Kaki Saat Syuting Film My Annoying Brother, Angga Yunanda Beri Komentar

4. Liga Yugoslavia 1985/86: Penolakan Partizan untuk Main Ulang
Contoh klasik keputusan administratif terjadi di Yugoslavia. Di pekan terakhir musim 1985/86, muncul tuduhan pengaturan skor massal. Otoritas liga memerintahkan pertandingan ulang di pekan terakhir. Tapi, Partizan Belgrade menolak main ulang. Karena penolakan itu, Partizan dinyatakan kalah 0-3, dan gelar juara liga langsung pindah ke Red Star Belgrade.

Halaman Selanjutnya
5. Inter Milan dan Berkah Calciopoli

Tinggalkan komentar