Buya Yahya Mengingatkan: Silaturahmi Bisa Berdosa Jika Niat Keliru, Ini Penjelasannya

Jakarta, VIVA – Momen silaturahmi, terutamah saat Hari Raya, sering dianggap sebagai ladang pahala. Namun, Buya Yahya mengingatkan bahwa aktivitas ini tidak selalue bernilai ibadah. Bahkan, dalam kondisi tertentu, silaturahmi justru bisa berubah jadi sumber dosa jika dilakukan tanpa niat yang benar.

Dalam sebuah penjelasannya, Buya Yahya menekankan pentingnya memperbaiki niat sebelum memutuskan untuk berkunjung ke rumah orang lain, baik itu keluarga maupun tetangga. Ia mengingatkan bahwa banyak orang melakukan silaturahmi hanya karena kebiasaan, tanpa benar-benar paham tujuan utamanya.

“Kalau Anda ingin kunjung ke rumah tetangga atau saudara ingin silaturahim, Anda jangan pergi dulu ke sana kecuali Anda hadirkan renungan yang dalam. Mau ngapain ke sana? Tujuannya untuk apa?” ujar Buya Yahya yang dikutip dari kanal YouTube-nya pada Rabu, 25 Maret 2026.

Menurutnya, niat menjadi kunci utama dalam setiap amal, termasuk saat bersilaturahmi. Tanpa niat yang tulus, seseorang bisa dengan mudah terjebak dalam perasaan negatif yang justru merusak nilai ibadah tersebut.

“Kalau tidak ya gara-gara tidak merenung, asal pergi saja. Asal pergi begitu saja. Sampai di sana rupanya kurang disambut,” tambahnya.

Situasi seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang merasa tidak dapat sambutan yang diharapkan, muncul rasa kecewa hingga berujung pada perilaku buruk seperti menggunjing atau membicarakan keburukan tuan rumah setelah pulang.

“Sampai rumah kita gunjing setiap hari. Ah, sombong banget paman itu kita datangi. Karena hati kita salah, kotor hati kita,” tegas Buya.

Dari penjelasan tersebut, Buya Yahya ingin mengingatkan bahwa masalah utamanya bukan pada sikap orang lain, melainkan pada kondisi hati sendiri. Jika hati sudah dipenuhi prasangka dan harapan berlebihan, maka silaturahmi yang seharusnya membawa keberkahan justru berubah menjadi beban dosa.

MEMBACA  Inggris Pertimbangkan Pencabutan Hak Pangeran Andrew untuk Mewarisi Takhta

Lebih jauh, pesan ini relevan bagi siapa saja yang ingin menjaga kualitas hubungan sosial sekaligus ibadah. Silaturahmi seharusnya dilakukan dengan niat mempererat hubungan, saling mendoakan, dan menjaga ukhuwah, bukan sekadar formalitas atau ajang penilaian.

Dengan memahami pesan ini, diharapkan setiap orang bisa lebih bijak dalam bersikap saat berkunjung. Niatkan silaturahmi sebagai ibadah yang tulus, tanpa mengharapkan balasan tertentu, agar tidak pulang dengan kekecewaan, apalagi membawa dosa.

Tinggalkan komentar