WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), pembicaraan tentang sosok ideal untuk Rais Aam Pengurus Besar NU (PBNU) semakin ramai.
Posisi Rais Aam dianggap bukan cuma jabatan struktural biasa. Ia adalah simbol martabat dan otoritas tertinggi di tubuh Syuriyah, sekaligus penentu arah strategis organisasi yang merupakan penerus para Nabi ini di tengah perubahan nasional dan global.
Pendapat ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli.
Menurut beliau, pemilihan Rais Aam harus berdasarkan kriteria jelas yang ada di Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) NU, lewat mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Bukan hanya karena pertimbangan popularitas seseorang aja.
Dalam struktur NU, Syuriyah adalah lembaga paling tinggi yang memegang kendali penuh organisasi para ulama ini. Syuriyah PBNU dipimpin oleh seorang Rais Aam yang biasanya dipilih dengan kriteria ketat.
Baca juga: Rais Aam PBNU Akui Sudah Bicara dengan Gus Yahya soal Pj Ketum
“Dalam struktur NU, Rais Aam bukan cuma jabatan administratif. Ia adalah simbol martabat, pemimpin spiritual, dan pengambil keputusan strategis organisasi. Makanya, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah dia memenuhi kriterianya,” ujar KH Imam Jazuli dalam keterangannya, Senin (26/1/2026).
4 Pilar Utama
Beliau menyebut ada empat pilar utama yang harus dimiliki seorang Rais Aam PBNU: alim (berilmu), faqih (mendalam fiqihnya), zahid (sederhana), serta berwibawa dan berpengalaman di organisasi. Ini juga harus diperkuat dengan nilai muru’ah, futuwwah, dan jiwa penggerak.
Berdasarkan kriteria itu, KH Imam Jazuli menilai KH Said Aqil Siradj sebagai figur yang paling memenuhi syarat untuk memimpin Syuriyah NU periode selanjutnya.
“Kalau kriteria itu diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan sempurna,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., MA. (Istimewa)
Dari sisi keilmuan, Kiai Said Aqil disebut sebagai ulama yang alim dan faqih. Beliau punya latar belakang pendidikan dari Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan yang dalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran masa kini.
“Pemikiran beliau mencerminkan Islam wasathiyah (moderat). Teguh pada tradisi pesantren, tapi mampu menanggapi modernitas tanpa kehilangan jati diri NU. Jadi, kefaqihan KH Said Aqil bersifat solutif dan kontekstual, sehingga bisa memberikan jawaban atas masalah umat di era perubahan sosial yang cepat ini,” jelasnya.
Baca juga: Bahas Mubasyirat, KH Said Aqil Siroj Ajak Umat Tak Pisahkan Spiritualitas dan Intelektualitas
Dalam aspek spiritual, Kiai Said Aqil dinilai punya karakter zahid, yaitu tidak terikat pada ambisi duniawi meskipun punya kapasitas dan akses ke kekuasaan.
“Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana ibadah. Jabatan bagi Kiai Said adalah amanah dan pengabdian, bukan tujuan,” ucap dia.
Pengalaman panjang Kiai Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode (2010–2021) juga menjadi poin penting.
Menurut KH Imam Jazuli, pengalaman itu membuatnya memahami NU secara menyeluruh, baik dari aspek struktural, ideologis, maupun kultural.