BRIN Mengembangkan Pemurnian Minyak Atsiri untuk Peningkatan Nilai Guna

Jakarta (ANTARA) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang kembangkan teknologi pemurnian minyak atsiri untuk menghasilkan bahan baku berkualitas tinggi bagi industri kosmetik dan farmasi, ungkap seorang peneliti pada Kamis.

Egi Agustian dari Pusat Riset Kimia Molekular BRIN menyebutkan, lembaga itu memakai teknik canggih seperti distilasi fraksi vakum, ekstraksi CO superkritis, distilasi molekuler, dan proses berbasis ultrasonik.

“Pendekatan ini memungkinkan pemisahan senyawa aktif yang lebih spesifik, menghasilkan keluaran stabil dan berkemurnian tinggi yang sesuai kebutuhan industri,” katanya.

Salah satu hasil riset BRIN adalah menyuling minyak sereh wangi menjadi sitronelal dengan kemurnian di atas 90 persen, ujar Agustian.

Senyawa itu lalu dapat diolah lebih lanjut menjadi isopulegol, yang punya nilai tambah lebih tinggi dan profil aroma yang lebih halus.

Agustian menyatakan, peneliti BRIN juga sedang kembangkan formulasi produk turunan dari senyawa minyak atsiri, termasuk parfum padat, masker wajah, lotion, dan pembersih tangan.

Dia mengatakan, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen dan eksportir minyak atsiri terbesar dunia membuat pengolahan hilir semakin penting untuk pembangunan industri.

Sekitar 40 produk minyak atsiri Indonesia telah masuk pasar global, meski sebagian besar masih diekspor dalam bentuk mentah atau belum diolah.

Sementara itu, turunan bernilai lebih tinggi seringkali diimpor kembali untuk digunakan dalam pembuatan kosmetik dan farmasi, sehingga meningkatkan ketidakefisienan ekonomi, jelasnya.

“Nilai minyak atsiri bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat saat diolah dari bentuk kasar menjadi bahan baku kosmetik berkemurnian tinggi,” kata Agustian.

Dia mencontohkan minyak nilam Sumatra, yang nilainya dapat naik lebih jauh dengan meningkatkan kadar alkohol nilam dan mengurangi kontaminan logam.

Peluang serupa ada untuk minyak sereh dari Jawa dan minyak pala dari Ambon, yang dapat diolah menjadi turunan bernilai lebih tinggi, tuturnya.

MEMBACA  Menteri Pertahanan baru Kolombia bersumpah untuk merebut kembali wilayah yang hilang kepada kelompok pemberontak.

Agustian berharap teknologi pemurnian dapat diadopsi dalam skala industri untuk memperkuat kapasitas pengolahan hilir Indonesia.

Dia menyebut adopsi yang lebih luas akan tingkatkan daya saing global sekaligus menghasilkan nilai tambah domestik yang lebih besar dari sumber daya alam Indonesia.

Berita terkait: Minyak atsiri penting untuk pengembangan wisata wellness: kementerian

Berita terkait: Wakil Menteri Tanoesoedibjo kagumi konsep Rumah Atsiri di Jateng

Berita terkait: Presiden Indonesia dorong pengembangan lebih banyak komoditas ekspor

Penerjemah: Sean FM, Rahmad Nasution
Editor: Azis Kurmala
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar