Badan Halal Indonesia Targetkan Geliat Industri pada 2026

Jakarta (ANTARA) – Badan Penjaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan industri halal nasional pada tahun 2026, dengan memperkuat sistem sertifikasi dan memperluas pengakuan internasional untuk memperkokoh peran sektor ini dalam ekonomi.

“Tahun 2026 adalah momentum untuk akselerasi industri halal nasional,” kata Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta pada Selasa, mengekspresikan optimisme akan pertumbuhan yang lebih kuat di ekosistem bisnis halal.

Dia menyebutkan rantai nilai halal menyumbang 27 persen dari produk domestik bruto Indonesia pada 2025, setara dengan sekitar 4.832 triliun rupiah (US$81,5 miliar), yang menegaskan peran sektor yang semakin besar di ekonomi terbesar Asia Tenggara ini.

“Tren ini membuktikan industri halal bukan sektor pinggiran, tetapi penggerak vital ekonomi nasional,” ujar Hasan, menambahkan bahwa badan tersebut akan memperkuat sistem penjaminan produk halal untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

BPJPH juga akan mencari pengakuan internasional yang lebih luas untuk sertifikasi halal Indonesia, termasuk melalui kerjasama dengan institusi luar negeri dan mitra domestik seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Pada 27 Februari lalu, Hasan menandatangani perjanjian pengakuan bersama halal di Jakarta dengan institusi dari Shanghai dan Shenzhen di Tiongkok, serta mitra dari Filipina dan Meksiko, menurut pernyataan itu.

Dia juga meresmikan pakta kerjasama dengan Baznas untuk memfasilitasi pengumpulan dana filantropi Islam dari karyawan BPJPH, menyelaraskan pengembangan industri halal dengan inisiatif keuangan sosial Islam.

Kepala Baznas Noor Achmad menyambut baik penguatan kerangka sertifikasi tersebut, menyatakan bahwa kepastian hukum dan perlindungan konsumen yang lebih baik dapat memperluas peluang bagi usaha lokal yang bergerak di sektor halal.

Dia mengatakan, sinkronisasi program industri halal dengan upaya pengumpulan zakat menandai langkah strategis menuju pemberdayaan berkelanjutan masyarakat Muslim dan inklusi ekonomi yang lebih luas.

MEMBACA  Pemerintah Selidiki Dugaan Kontaminasi Radioaktif pada Cengkeh

Di bawah agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Indonesia berupaya memposisikan diri sebagai pusat ekonomi Islam global dengan memperkuat usaha halal dan mengoptimalkan aset keuangan Islam seperti zakat dan wakaf.

Dalam Laporan State of the Global Islamic Economy 2024–2025, Indonesia mempertahankan peringkatnya sebagai ekonomi Islam terbesar ketiga di dunia dengan skor Global Islamic Economy Indicator sebesar 99,9 dan mengamankan US$1,60 miliar dari 40 kesepakatan investasi halal.

Penerjemah: Arnidhya N, Tegar Nurfitra
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar