AP Kurangi Ratusan Karyawan, AI Dituding Sebagai Penyebabnya

Senin, 13 April 2026 – 10:13 WIB

Jakarta, VIVA – Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di industri media sekarang bukan cuma alat bantu produksi aja. Teknologi ini mulai dipakai secara agresif sama perusahaan buat ubah struktur bisnis, termasuk mengurangi tenaga kerja manusia.

Dampaknya, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) jurnalis mulai keliatan nyata.

Di Amerika Serikat, fenomena ini picu konflik serius antara perusahaan media dan pekerja. Associated Press (AP) dan ProPublica jadi dua contoh terbaru tentang gimana penggunaan AI bikin ketegangan, mulai dari PHK massal sampe aksi mogok kerja.

Associated Press dilaporkan udah kirim pemberitahuan PHK ke setidaknya 120 jurnalis di Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja yang berpengalaman.
Perusahaan juga nawarin skema buyout atau pesangon, tapi langkah ini dilakukan tanpa pemberitahuan ataupun negosiasi sama serikat pekerja.

Manajemen AP nyebut, langkah tersebut adalah bagian dari transformasi bisnis di tengah perubahan lanskap media. Perusahaan sekarang nggak lagi bergantung sama model bisnis tradisional yang berbasis koran.
“Kami bukan perusahaan koran dan udah lama nggak kayak gitu,” gitu pernyataan manajemen, kayak yang dilansir dari People’s World, Senin, 13 April 2026.
Pendapatan dari koran sekarang cuma nyumbang sekitar 10 persen buat AP, turun 24 persen dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, perusahaan andelin pendapatan dari AI, pasar digital, layanan cloud, dan juga konten visual sama video.

Fenomena PHK karena AI disebut nggak cuma terjadi di satu perusahaan aja. Analis keuangan dari Goldman Sachs perkirain dampaknya terjadi secara luas di seluruh Amerika Serikat.
Mereka catet AI udah sebabin sekitar 5.000 sampe 10.000 PHK per bulan di taun lalu. Taun ini, jumlah itu diproyeksiin naik jadi 16.000 PHK per bulan.

MEMBACA  Indonesia akan mendaftarkan tempe ke dalam daftar warisan budaya UNESCO.

Perusahaan sebut langkah ini sebagai "reinvestment" atau investasi ulang ke teknologi seperti software, cloud, dan sistem kerja berbasis mesin. Tapi, kritik di media sosial bilang langkah ini malah ngorbanin kualitas jurnalisme di tengah kebutuhan publik bakal informasi yang akurat dan independen.
Di tengah tren itu, sekitar 150 staf ProPublica ambil langkah tegas. Mereka lakuin pemungutan suara dan 92 persen dukung aksi mogok kerja terkait kondisi kerja dan ancaman penggunaan AI.

Halaman Selanjutnya

Presiden NewsGuild, Jon Schleuss, tegaskan pentingnya perlindungan buat jurnalis dalam hadapi perkembangan teknologi ini. “Dunia kita butuh lebih banyak jurnalisme investigasi untuk kepentingan publik,” ungkapnya.

Tinggalkan komentar