Analisis Skenario Terburuk Israel dalam Perang Total Jika Iran Meluncurkan Seluruh Persediaan Rudalnya

loading…

Situs-situs penting Israel hancur saat dihujani rudal-rudal Iran dalam perang 12 hari pada Juni lalu. Foto/X @WarMonitors

TEL AVIV – Saat saluran diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlanjut, Israel bersiap untuk perang. Garis merah Tel Aviv sangat jauh dari garis merah Teheran, yang bahkan menolak mempertimbangkan batasan untuk program rudalnya—rudal yang sama yang menyebabkan kerusakan parah di Israel selama perang 12 hari di bulan Juni lalu.

Bagi Iran, program rudal balistiknya bukan cuma sistem senjata, tapi aset strategis utama. Bahkan mungkin lebih penting dari proyek nuklirnya, karena kemampuannya yang terbukti bisa melumpuhkan garis depan Israel dan menyebabkan kerusakan signifikan meskipun Israel punya sistem pertahanan yang canggih.

Baca Juga: Mengapa Iran Sangat Sulit untuk Ditaklukkan Meski Dikeroyok AS dan Israel? Ini Analisisnya

Pelajaran dari perang 12 hari—di mana Israel terpaksa mengatur "ekonomi amunisi" saat menghadapi ratusan peluncuran rudal, mengklaim bisa mencegat sebagian besar tapi tetap menderita kerusakan berat—memperkuat keyakinan di Teheran bahwa Israel rentan terhadap serangan terus-menerus yang bisa menghabiskan persediaan rudal pencegatnya.

Karena Iran melihat rudal-rudalnya sebagai alat pencegahan utama dan kekuatan penentu, analisis intelijen Barat menyimpulkan mereka tidak akan melepasnya bahkan di bawah tekanan AS dalam perundingan.

Sikap keras ini menempatkan Timur Tengah pada apa yang disebut pejabat regional dan Barat sebagai jalur tabrakan—antara menandatangani perjanjian yang membuat Israel terancam signifikan, atau tergelincir ke perang habis-habisan. Sebagai balasannya, sistem pertahanan udara Israel—yang terdiri dari tujuh batalion yang disebar di seluruh negeri dengan lima lapis pertahanan—sedang bersiap bersama militer AS, dan mungkin koalisi internasional.

Skenario Terburuk Jika Iran Tembakkan Seluruh Rudal

Tal Inbar, peneliti senior di Missile Defense Advocacy Alliance, mengatakan kepada Ynet, Sabtu (14/2/2026), bahwa kemampuan peluncuran rudal Iran tidak berubah banyak dari serangan sebelumnya, meskipun rezim itu masih punya banyak rudal berat yang belum dipakai.

MEMBACA  4 Respons Pengacara Israel yang Menolak Bertanggung Jawab atas Genosida Terhadap Palestina

“Kami belum melihat kemampuan untuk tembakan masif—bukan ratusan atau ribuan rudal sekaligus,” kata Inbar.

“Tapi dalam perang di mana rezim Iran merasa ini adalah saat-saat terakhir, mereka akan menembakkan semua yang mereka punya. Dalam kasus seperti itu, bisa dibayangkan serangan bahkan ke target simbolis yang bukan militer,” jelasnya.

Dia tekankan bahwa ini skenario ekstrem. “Bisa diasumsikan kalau Amerika Serikat yang memulai serangan, akan ada operasi yang dirancang untuk mencegah penggunaan alat-alat ini sebisa mungkin. AS bisa lakukan hal yang tidak bisa dilakukan Israel, contohnya serangan ratusan rudal jelajah ke berbagai lokasi peluncuran di Iran. Ini hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Inbar.

Armada Besar AS

Selama konflik terakhir dengan Iran, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menggunakan sistem pertahanannya secara intensif. Laporan bulan lalu mengklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan ke Iran sebagian karena rezim Zionis kekurangan pencegat.

Sejak itu, pasukan Amerika dalam jumlah besar tiba di Timur Tengah, juga untuk bantu pencegatan—meski ada penggunaan besar pencegat untuk pertahankan Israel pada Juni tahun lalu dan kesulitan mengisi kembali persediaan.

Sistem pertahanan udara Israel sedang menjalani pengujian, penyesuaian, dan peningkatan untuk hadapi ancaman yang terus berkembang. Tapi, bantuan AS—yang memberikan respons lebih luas terhadap ancaman Iran bahkan dari jarak jauh—tetap jadi komponen penting dari strategi pertahanan.

Tinggalkan komentar