loading…
Efektivitas sistem pertahanan udara Rusia di Venezuela dipertanyakan setelah gagal menjatuhkan satupun dari 150 pesawat militer AS. Foto/Defense Express
CARACAS – Operasi kilat militer Amerika Serikat di Venezuela tidak hanya berakhir dengan penculikan Presiden Nicolas Maduro. Rusia juga ikut terdampak karena berbagai sistem pertahanan udara buatannya gagal menembak jatuh satu pun dari 150 pesawat Amerika yang beroperasi di negara Amerika Selatan tersebut.
“Sepertinya pertahanan udara Rusia itu tidak bekerja dengan baik, ya?” demikian penilaian Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Operasi serangan yang kompleks ini melibatkan lebih dari 150 pesawat militer AS. Sebagian melakukan serangan langsung. Yang lainnya melakukan perang elektronik serta terlibat dalam kegiatan intelijen, pengintaian, dan pengawasan. Di tengah semua itu, helikopter dengan cepat mengangkut pasukan masuk dan keluar dari ibu kota Caracas.
Baca Juga: Mengapa Rusia Tak Menolong Venezuela saat Diserang AS dan Maduro Diculik?
Militer AS menyerang pangkalan dan infrastruktur strategis, menghancurkan pertahanan udara, dan mengalahkan tim keamanan lokal.
Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa sebuah pesawat terkena serangan tanpa menjelaskan apa yang menghantamnya, tetapi pesawat tersebut tetap bisa beroperasi. Dia menyatakan tidak ada pasukan atau peralatan AS yang hilang, termasuk tidak satupun pesawat.
Ini bukanlah citra yang bagus untuk pertahanan udara buatan Rusia yang diandalkan Venezuela. Trump mengatakan pertahanan Venezuela sudah siap, namun kekuatan tempur AS, menurut Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, berhasil melumpuhkan dan membongkar sistem pertahanan udara yang seharusnya melindungi Caracas.
Para analis mengatakan kepada Business Insider, Rabu (7/1/2026), bahwa meskipun kesimpulan pasti tidak bisa diambil hanya dari satu operasi tempur, kinerja sistem pertahanan Rusia malam itu mungkin memberikan wawasan berharga bagi militer Barat saat mereka menilai kemampuan pertahanan udara Rusia, yang selama ini menunjukkan kinerja dunia nyata yang tidak konsisten.
Perlu diingat, efektivitas pertahanan udara tidak hanya ditentukan oleh sistem senjatanya. Banyak faktor lain yang berperan. Kesalahan operator manusia bisa sama pentingnya dengan kemampuan tempur lawan. Ada juga kemungkinan nyata bahwa komponen lain dalam jaringan pertahanan udara terpadu Venezuela dalam kondisi buruk, yang memengaruhi efektivitas secara keseluruhan.
Mattias Eken, seorang ahli pertahanan rudal di RAND, mengatakan hal ini menunjukkan bahwa operasi multi-domain Barat yang direncanakan dengan baik dapat menekan atau menembus bahkan sistem Rusia yang canggih sekalipun, terutama ketika aspek-aspek seperti integrasi, komando dan kendali, serta keahlian operator mungkin kurang memadai.
Sistem Saja Tidak Menentukan Hasil Pertarungan
Sebelum Operasi Absolute Resolve diluncurkan oleh militer AS, jaringan pertahanan udara Venezuela diketahui mencakup berbagai sistem buatan Rusia, termasuk baterai S-300VM, sistem Buk-M2, dan peluncur S-125 Pechora-2M yang lebih tua, ditambah radar buatan Cina. Beberapa di antaranya termasuk sistem ekspor Rusia yang cukup mumpuni, meski bukan varian terbaru yang digunakan militer Rusia sendiri.
Seorang anggota Parlemen Rusia mengatakan pada bulan November bahwa Moskow telah mengirimkan sistem Pantsir-S1 dan Buk-M2E baru ke Venezuela. Tidak jelas sistem mana yang sempat beroperasi.
Douglas Barrie, seorang ahli kekuatan udara dari International Institute for Strategic Studies (IISS), mengatakan sistem yang dimiliki Venezuela “bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan”.
AS pun tidak menganggap remeh. AS menjadikan netralisasi ancaman potensial tersebut sebagai prioritas dan membawa kemampuan pesawat tempur siluman canggih seperti F-22 dan F-35 ke dalam pertempuran.