Ambisi Swasembada Gula Tersandera Produktivitas dan Pabrik Usang

loading…

Pemerintah terus memacu target swasembada gula konsumsi. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – Pemerintah terus mendorong target supaya Indonesia bisa swasembada gula konsumsi di tahun 2028. Tapi, upaya ini masih terhalang masalah struktural seperti produktivitas tebu yang rendah dan mesin-mesin pabrik gula yang sudah tua. Walaupun sudah ada peta jalan lewat integrasi industri, kerja sama antara sektor hulu dan hilir dinilai masih perlu perbaikan menyeluruh untuk capai target produksi nasional.

“Faktor penyebabnya adalah mesin pabrik gulanya sudah tua, jadi kualitas gulanya tidak optimal dan warnanya putih kusam atau kuning. Hal itu perlu dilakukan modernisasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi yang bisa mendukung swasembada gula,” kata akademisi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yuvensius Sri Susilo, seperti dikutip pada Sabtu (18/4/2026).

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menjelaskan produktivitas tebu nasional saat ini masih terbilang rendah, rata-rata cuma 4,74 ton gula per hektar. Kendala utama di sektor hulu antara lain kebun tebu yang sudah tua, terbatasnya bibit unggul, serta kurangnya infrastruktur irigasi dan akses modal untuk para petani.

Di sisi hilir, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengakui kualitas gula produksi BUMN belum maksimal karena kondisi pabrik yang sudah tua. Ini berdampak pada rendahnya rendemen atau jumlah gula yang dihasilkan dari tebu. Pengamat pertanian IPB, Purwono MS, menambahkan, efisiensi pabrik yang berbeda-beda menyebabkan biaya pengolahan gula menjadi mahal, yang akhirnya melemahkan daya saing industri nasional.

Selain masalah teknis, transisi bahan baku di pabrik gula rafinasi juga menghadapi kendala investasi dan logistik. Wakil Menteri Perdagangan, Faisol Riza, mengatakan sebagian besar pabrik rafinasi saat ini cuma dirancang untuk mengolah gula mentah, sehingga peralihan untuk mengolah tebu langsung memerlukan investasi fasilitas baru yang sangat besar.

MEMBACA  Menteri HAM Indonesia memprioritaskan reformasi struktur dan sistem

Tinggalkan komentar