Banda Aceh, Aceh (ANTARA) – Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sedang menghitung ulang target produksi beras tahun 2026 setelah banjir bandang merusak puluhan ribu hektar sawah di provinsi tersebut.
“Kami segera mengevaluasi target produksi 2026, yang disusun sebelum banjir melanda pada akhir November 2025,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Safrizal, di Banda Aceh, pada Rabu.
Dia menjelaskan bahwa target 2026 awalnya telah difinalisasi bersama pemerintah kabupaten dan kota antara September dan Oktober 2025.
Dalam proyeksi awal, Aceh bertujuan memproduksi 1,8 juta ton gabah kering giling, setara dengan 1,15 juta ton beras.
Target itu didasarkan pada perkiraan luas tanam 352.676 hektar dan luas panen total 335.042 hektar, dengan tingkat produktivitas diproyeksikan 5,5 ton per hektar.
“Kami membuat rencana itu dengan asumsi kondisi yang mendukung. Tidak ada yang bisa memprediksi bencana sebesar ini,” ujarnya.
Dia mencatat bahwa banjir dan tanah longsor di Aceh menyebabkan kerusakan ringan hingga berat, dengan sekitar 56.600 hektar sawah terdampak menurut posko komando bencana provinsi.
Dari angka tersebut, 27.000 hektar dinyatakan *puso* (gagal panen total), artinya sawah terendam dan tidak bisa dipanen.
Safrizal menambahkan bahwa sawah yang rusak parah tidak dapat digunakan untuk produksi dalam waktu dekat, sehingga memengaruhi target yang telah ditetapkan sebelumnya.
“Karena banyak sawah rusak, kami menghitung ulang target produksi. Saat ini kami sedang mengevaluasinya bersama pemerintah kabupaten/kota untuk membuat target yang lebih rasional,” jelasnya.
Dia juga berharap pemerintah daerah mencegah alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman atau area komersial.
Berita terkait: Indonesia capai swasembada pangan pada 2025: Prabowo
Berita terkait: Pemulihan 98.000 hektar sawah rusak di Sumatera oleh pemerintah
Penerjemah: Rahmat Fajri, Raka Adji
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026