Banda Aceh, Aceh (ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur telah membangun hampir 80 kilometer pagar listrik di wilayah terpencil untuk mengurangi konflik yang meningkat antara gajah liar dan warga, kata seorang pejabat.
Muhammad Ishak, Kepala Kecamatan Peunaron, mengatakan pagar kejut listrik bertegangan rendah sepanjang 79,92 kilometer telah dipasang di enam desa di Kecamatan Peunaron dan Kecamatan Serbajadi yang bertetangga.
Proyek ini merupakan kerja sama antara pemerintah kabupaten Aceh Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, dan Forum Konservasi Leuser, ujarnya di Aceh Timur pada Jumat.
Di Peunaron, pagar membentang di Desa Sri Mulya sepanjang 11,5 kilometer dan di Arul Pinang sepanjang 30,71 kilometer.
Bagian tambahan lainnya mencakup Desa Peunaron sepanjang 9,26 kilometer dan Peunaron Baru sepanjang 5,63 kilometer.
Di Serbajadi yang berdekatan, pagar terbentang sepanjang 9,72 kilometer di desa Bunin dan 13,37 kilometer di Desa Arul Duren, kata Ishak.
Pemasangan pagar ini dimaksudkan untuk mengurangi interaksi negatif antara penduduk dan gajah Sumatera yang dilindungi, yang kerap memasuki lahan pertanian dan perkebunan di kawasan berhutan tersebut.
Pihak berwenang juga telah membuka posko pengaduan konflik satwa liar di kantor kecamatan Peunaron, setelah banyak laporan tentang masuknya gajah ke kawasan permukiman dan pertanian.
Selain gajah, warga juga melaporkan harimau yang memangsa ternak, sehingga mendorong upaya mitigasi yang lebih luas untuk mencegah korban jiwa di kalangan penduduk dan satwa liar yang dilindungi, jelas Ishak.
Dia mendorong masyarakat dan pemangku kepentingan setempat untuk mendukung posko pengaduan ini sebagai pusat pelaporan dan mekanisme tanggap dini dalam mengelola pertemuan dengan satwa liar.
Ishak berharap pagar listrik ini dapat berfungsi sebagai batas yang mencegah gajah merusak tanaman dan perkebunan, sekaligus meminimalkan bahaya terhadap hewan tersebut.
Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan masalah berulang di bagian Provinsi Aceh yang berbatasan dengan Ekosistem Leuser, salah satu habitat terakhir gajah dan harimau Sumatera yang terancam punah.
Pemerintah Indonesia telah memasukkan gajah Sumatera ke dalam daftar mamalia yang sangat terancam punah di negara ini.
Menurut data yang diterbitkan di situs web resmi World Wildlife Fund (WWF), populasi gajah Sumatera diperkirakan sekitar 2.400–2.800 individu.
Organisasi terkemuka dunia di bidang konservasi satwa liar dan spesies terancam punah ini menyatakan bahwa gading masih dapat ditemukan di pasar-pasar di sekitar Afrika dan Asia, serta di Amerika Serikat dan Eropa.
WWF mencatat bahwa perburuan untuk perdagangan gading ilegal masih menjadi ancaman serius bagi kehidupan gajah liar di beberapa negara.
Berita terkait: Pembunuhan brutal gajah Sumatera picu pengejaran polisi di Riau
Berita terkait: Riau pantau pergerakan gajah dengan pelacakan GPS
Penerjemah: M.Haris SA, Rahmad Nasution
Editor: Primayanti
Hak Cipta © ANTARA 2026