2026: Mampukah Hegemoni Dolar AS Bertahan?

loading…

Sebuah foto yang diambil oleh AP menunjukan beberapa negara mulai menciptakan dan memakai sistem pembayaran alternatif untuk transaksi internasional, menandai perubahan peta keuangan dunia.

JAKARTA – Kepercayaan terhadap keandalan dolar Amerika Serikat (AS) semakin berkurang, mengikis pamor mata uang yang sudah puluhan tahun menjadi tulang punggung perdagangan dan sistem keuangan global. Banyak negara mulai mengembangkan dan memakai mekanisme pembayaran lintas batas lain, yang menandai perubahan bertahap dalam peta keuangan dunia.

Tahun 2026 dipandang sebagai momen penting saat “pelemahan” dominasi dolar AS makin terlihat. Semakin sering Washington menggunakan dolar sebagai alat tekanan ekonomi dan politik, semakin kuat juga keinginan negara-negara lain untuk mencari cara bertransaksi di luar sistem yang pakai dolar AS.

Peran AS dalam perdagangan global yang menurun juga mempercepat proses ini. Menurut Wired, bagian AS dalam perdagangan dunia turun dari sekitar sepertiga di tahun 2000 menjadi seperempat sekarang. Meningkatnya perdagangan antar negara berkembang membuat pemakaian dolar dalam perdagangan barang global makin berkurang, seperti terlihat dalam transaksi India–Rusia yang sekarang diselesaikan pakai rupee, dirham, dan yuan.

China menjadi contoh yang paling jelas. Lebih dari setengah perdagangan negara itu sekarang dilakukan lewat Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sistem pembayaran milik Beijing, bukan lewat SWIFT yang lama didominasi bank-bank Barat. Beberapa negara lain, seperti Brasil–Argentina, UEA–India, dan Indonesia–Malaysia, juga sudah mulai mencoba menyelesaikan transaksi dengan memakai mata uang lokal mereka sendiri.

MEMBACA  Rally kemenangan pasar saham Trump mungkin tidak bertahan lama, kata Goldman Sachs. Inilah alasannya

Tinggalkan komentar