10 Bank Sentral dengan Pembelian Emas Terbesar, China Borong 350 Ton

Senin, 23 Februari 2026 – 20:43 WIB

Jakarta, VIVA – Emas terus menjadi aset investasi yang paling diminati dalam beberpa tahun belakangan. Aset safe haven ini nilainya sudah naik lebih dari 230 persen sejak tahun 2020.

Kenaikan harga yang signifikan ini tidak hanya menarik minat investor perorangan untuk mengoleksi logam mulia berwarna kuning. Permintaan juga datang dari bank-bank sentral di berbagai negara yang ramai-ramai memborong emas.

Selain sebagai aset yang aman, emas juga dianggap sebagai aset strategis di tengah ketegangan geopolitik, gejolak nilai tukar mata uang, dan upaya diversifikasi cadangan devisa dari ketergantungan pada dolar AS. Bagi beberapa bank sentral, emas berperan sebagai penyeimbang yang netral secara politik di saat sistem keuangan global semakin terfragmentasi.

Data dari World Gold Council melaporkan, 15 negara teratas secara kolektif menambahkan hampir 2.000 ton emas ke dalam cadangan mereka dalam lima tahun terakhir. Gelombang akumulasi ini termasuk salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.

Dikutip dari Visual Capitalist, berikut adalah 10 bank sentral dengan pembelian emas terbanyak dari tahun 2020 sampai 2025.

1. China
China mencatat penambahan terbesar, yaitu lebih dari 350 ton. Langkah ini sejalan dengan strategi Beijing untuk mendiversifikasi cadangan devisanya dari dolar AS dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.

2. Polandia
Polandia secara agresif menambah porsi emas sebanyak 314,6 ton ke cadangan devisanya untuk memperkuat stabilitas keuangan jangka panjang.

3. Turki
Bank sentral Turki terus menambah emas sebagai bantalan menghadapi tekanan pada mata uang domestik. Dalam lima tahun terakhir, Turki tercatat membeli 251,8 ton emas.

4. India
India memperkuat cadangan emasnya sebanyak 245,3 ton untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah dinamika global.

MEMBACA  Hearing Titan Submersible Memperlihatkan Banyak Masalah Dengan Lambung Karbonnya

5. Brasil
Tidak hanya negara-negara di Asia, Brasil dari benua Amerika juga ikut membeli 105,1 ton emas. Langkah ini untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi aset cadangan.

6. Azerbaijan: 83,6 ton emas
7. Jepang: 80,8 ton emas
8. Thailand: 80,6 ton emas
9. Hungaria: 78,5 ton emas
10. Singapura: 77,3 ton emas

Namun, beberapa negara justru mengurangi cadangan emasnya dalam periode yang sama, seperti Filipina dan Kazakhstan. Perbedaan strategi ini menunjukan bahwa emas sekarang dipandang sebagai instrumen kebijakan yang fleksibel.

Langkah akumulasi emas oleh bank-bank sentral ini tidak hanya memperkuat cadangan devisa, tetapi juga meningkatkan nilai aset negara secara signifikan. Jika ketidakpastian global berlanjut, tren pembelian emas oleh bank sentral berpotensi terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Tinggalkan komentar