Industri truk di Meksiko sekarang menghadapi masalah kekurangan sopir yang semakin parah. Menurut survei terbaru dari International Road Transport Union (IRU), sekitar 14% posisi sopir komersial kosong karena perusahaan sulit mencari pekerja baru.
Angka 14% ini adalah yang tertinggi kedua dari 18 negara yang disurvei, hanya kalah dari Uzbekistan yang mencapai 15%. Angka ini juga lebih tinggi dari rata-rata global yang sebesar 11%.
Hasil survei ini menunjukkan tekanan besar pada tenaga kerja di Meksiko, karena negara ini sangat bergantung pada truk untuk mengangkut barang dalam negeri dan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Laporan itu menemukan bahwa kesulitan merekrut sopir sudah semakin buruk di hampir semua negara sejak tahun 2021. Artinya, kekurangan sopir ini bukan hanya masalah sementara, tapi sudah menjadi masalah struktural.
IRU sendiri adalah organisasi transportasi global yang berbasis di Geneva, Swiss. Organisasi ini memiliki anggota dari 75 negara dan mewakili operator bis, taksi, dan truk.
Di Meksiko, IRU mengatakan masalah tenaga kerja dan jalur pelatihan yang belum berkembang terus membuat banyak posisi sopir kosong.
Survei juga mencatat bahwa 44% perusahaan truk di Meksiko menganggap kekurangan sopir sebagai tantangan terbesar mereka. Masalah ini bahkan lebih besar dari kekhawatiran tentang ekonomi, dekarbonisasi, dan digitalisasi.
Kamar Dagang Transportasi Kargo Meksiko memperkirakan sekitar 90.000 truk saat ini menganggur karena tidak ada sopir yang cukup. Tanpa program tenaga kerja tambahan, jumlah itu bisa naik menjadi lebih dari 108.000 truk pada tahun 2028.
Truk mengangkut sekitar 81% kargo darat di Meksiko dan 57% barang dalam negeri. Karena itu, ketersediaan sopir sangat penting bagi pabrik, pedagang, dan eksportir yang mengandalkan transportasi jalan.
Secara global, IRU memperkirakan ada sekitar 2,9 juta posisi sopir truk yang kosong di 18 pasar barang utama. Jumlah itu sama dengan 11% dari total tenaga kerja industri ini. Di Eropa, angka lowongan kerja mencapai 13%, Australia 12%, Brasil 11%, dan China 10%.
Sekretaris Jenderal IRU, Umberto de Pretto, mengatakan kekurangan sopir sudah menjadi masalah struktural yang mempengaruhi kapasitas angkutan dan keandalan rantai pasokan.
“Meskipun sudah ada usaha besar dari industri, kekurangan sopir justru semakin dalam sebagai masalah struktural yang kritis bagi industri angkutan jalan,” kata de Pretto. “Rekrutmen sopir langsung mempengaruhi kapasitas transportasi, pertumbuhan bisnis, dan keandalan rantai pasokan.”
Tingkat lowongan sopir truk menurut survei IRU 2025: Meksiko 14%, Uzbekistan 15%, Eropa 13%, Australia 12%, Brasil 11%, Rata-rata global 11%, China 10%.