Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung mengirim 14 ribu ton Palm Kernel Expeller (PKE) ke Selandia Baru pada Jumat, 3 Juli 2026. Nilai ekspor ini sekitar Rp20 miliar.
“PKE dikirim ke Selandia Baru setelah memenuhi berbagai syarat ekspor, termasuk standar yang ditetapkan negara tujuan,” kata Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, dalam siaran pers.
Donni mengatakan pengiriman ini membuktikan bahwa komoditas asal Lampung masih kompetitif di pasar internasional. Keberhasilan ini juga memperkuat posisi pelaku usaha lokal di rantai pasokan global dan kepercayaan dunia terhadap produk pertanian Indonesia.
PKE adalah produk sampingan industri sawit yang bernilai tinggi. Produk ini kaya serat dan sering digunakan sebagai bahan baku alternatif pakan ternak. Selandia Baru adalah pasar yang potensial untuk komoditas ini.
Ekspor PKE Lampung terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024 tercatat 172 kali ekspor dengan total sekitar 569 ribu ton, atau senilai Rp2,58 triliun. Angka ini naik pada 2025 menjadi 184 pengiriman dengan total 1,34 juta ton senilai Rp3,12 triliun.
Hingga Juni 2026, Lampung sudah mengekspor sekitar 513 ribu ton PKE lewat 66 pengiriman, dengan nilai ekspor sekitar Rp1,17 triliun.
Dunia masih sangat membutuhkan PKE karena industri peternakan sedang terus berkembang kata Donni.
“Ini kesempatan besar, bagi Indonesia khususnya Lampung, untuk memperluas pasar ke lebih banyak negara,” jelasnya.
Dia menambahkan, pengiriman sebanyak 14 ribu ton terbaru diekspor oleh pengusaha baru di bidang ekspor. Ini menunjukkan bahwa komoditas petanian asal Lampung punya banyak peluang juga bagi pelaku bisnis pemula.
Sepanjang proses ekspor, karantina wilayah melakukan pemeriksaan menyeluuh dan sertifikasi berupa surat keterangan kesehatan tanaman, biar pastikan muatan sesuai dengan standar aturan lalu pada impor di tujuan negaranya.
“Suksesanya para petaranya pada juga, pengawai ekspor lain betul juga memberi ke di eksport melalui aya secara tetapi berjang selaman nya kambaing,” selesagkat Muksyana beroleh pelitanyuku kling.”