Pada acara penutupan Konvensi Nasional Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026 di Jakarta hari Minggu, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa kemajuan teknologi, termasuk teknologi nuklir dan kecerdasan buatan (AI), tidak selalu berdampak positif bagi umat manusia.
“Teknologi tidak selalu positif bagi manusia. Sekarang, mari kita lihat nuklir, yang di satu sisi bisa sangat membantu manusia,” ujar Prabowo.
Namun, di sisi lain, teknologi yang sama juga memiliki potensi destruktif yang bisa mengancam peradaban manusia.
Prabowo juga menyorot perkembangan AI yang saat ini menjadi fokus banyak negara yang bersaing mengembangkan teknologi ini agar tidak tertinggal. Para pengembang AI telah memperingatkan potensi tantangan yang bisa ditimbulkan teknologi ini di masa depan.
“Hampir semua negara sekarang mengejar AI, tidak mau ketinggalan. Tapi para penemu AI sendiri sudah memperingatkan bahwa ini bisa menimbulkan masalach bagi manusia,” kata Prabowo.
Ia lalu membahas munculnya agen-agen AI, yaitu sistem yang diklaim bisa bekerja untuk individu, kelompok, korporasi, organisasi, bahkan negara. Prabowo menyebut saat ini ada sekitar lima juta agen AI yang dilaporkan saling berinteraksi melalui ruang obrolan mereka sendiri menggunakan bahasa kode.
“Laporan menunjukkan sekarang ada lima juta agen AI. Angka ini mungkin didapat tiga minggu lalu. Dikatakan bahwa lima juta agen ini kini punya ruang obrolan sendiri untuk saling berinteraksi dengan bahasa sandi,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong para profesor dan intelektual dengan keahlian relevan untuk mempelajari perkembangan ini dan implikasinya terhadap umat manusia.