Kata Pendiri E! di VidCon: Hollywood Keliru Memilih Layar untuk Jadi Sasaran Konten

Ketika Larry Namer ikut mendirikan E! Entertainment Television pada tahun 1987, masa depan hiburan saat itu sangat bergantung pada televisi kabel. Hampir empat dekade kemudian, ia berpendapat bahwa masa depan itu kini berbentuk ponsel pintar yang dipegang secara vertikal.

Berbicara di VidCon 2026, eksekutif televisi di balik salah satu merek paling ikonik dalam budaya pop ini mengemukakan argumen sederhana: industri hiburan memiliki kebiasaan bertahan pada format lama, jauh setelah audiensnya beralih. Entah itu kabel, streaming, AI, atau video vertikal, Namer berargumen bahwa hiburan selalu menghargai perusahaan yang mau mengikuti perilaku audiens, bukannya berusaha mengubahnya.

BACA JUGA:
VidCon 2026: Pembaruan langsung dari akhir pekan terbesar internet

“Saya pikir pada dasarnya storytelling ya storytelling,” kata Namer. “Hanya saja teknologi untuk menyampaikan ceritanya… sangat berbeda. Perilaku audiens juga sangat berbeda.”

Filosofi itu telah membentuk sebagian besar kariernya. Kini, hal itu membawanya pada prediksi yang masih terasa radikal di Hollywood—pada tahun 2030, video pendek vertikal akan menjadi cara utama orang mengonsumsi hiburan.

Alasannya tidak didasarkan pada tren gimmik, melainkan kebiasaan.

Namer bercerita saat memproduksi acara berita selebriti di China, ia menemukan hampir tiga perempat penontonnya menonton lewat ponsel atau tablet. Hal ini mendorong satu pertanyaan sederhana untuk tim produksinya. “Kenapa kita shooting horizontal padahal semua orang menonton kita secara vertikal?”

Tim pun memikirkan ulang segalanya—dari pencahayaan, pembingkaian, hingga cara pembawa acara bergerak di depan kamera—untuk menciptakan acara yang dirancang bagi layar yang sudah digunakan audiens. Bagi Namer, itu hanya logika dasar.

Pola pikir ini juga menjelaskan kenapa ia bilang tidak akan meluncurkan jaringan televisi kabel tradisional saat ini.

MEMBACA  Roda Jatuh dari Pesawat Boeing di Udara Tengah

Ditanya apakah ia akan membangun E! versi lain, Namer mengaku masih percaya ada permintaan besar terhadap budaya selebriti dan berita hiburan. Namun, ia tidak akan mengemasnya dengan cara yang sama.

“Saya akan meluncurkannya secara non-linear,” katanya, seraya berargumen bahwa audiens kini ingin menonton apa yang mereka mau, kapan pun, di perangkat apa pun yang sedang mereka pegang.

Filosofi ini tidak hanya terbatas pada video vertikal.

AI dan Masa Depan Hiburan

Ketika pembahasan beralih ke kecerdasan buatan, Namer memberi peringatan yang sudah sering didengar bagi perusahaan media warisan: berhentilah melawannya.

Ia menyamakan skeptisisme terhadap AI saat ini dengan perlawanan industri musik terhadap distribusi digital dua dekade lalu. Label rekaman bertahun-tahun berusaha menghentikan hal yang tak terelakkan, ujarnya, hanya untuk akhirnya kehilangan kendali bisnis kepada platform seperti Spotify dan iTunes. Ia melihat media tradisional melakukan kesalahan serupa dengan menganggap AI bisa diabaikan begitu saja.

“Teknologi terus maju, tidak peduli kau suka atau tidak,” katanya. Meskipun begitu, itu bukan berarti ia mendukung inovasi tanpa kendali.

Sepanjang percakapan dengan Antony Gordon, pendiri Lighthouse Edutainment, Namer berulang kali kembali pada tanggung jawab yang menyertai pembangunan media. Ia berbicara panjang lebar tentang guardrails AI, tantangan kesehatan mental yang dihadapi kaum muda, serta perlunya platform mengutamakan kebaikan sosial di samping keuntungan. Pemerintah, katanya, harus menetapkan aturan soal AI seperti halnya mengatur lalu lintas, dengan standar yang jelas dan konsekuensi nyata bagi penyalahgunaan.

Pandangannya tentang para kreator juga sama pragmatisnya.

Alih-alih mengejar ketenaran semata, Namer mendorong hadirin untuk fokus menguasai satu keterampilan. “Ikuti gairahmu” mungkin adalah nasihat karier populer, candanya, tetapi tuan tanah tidak menerima bayaran sewa dalam bentuk sweter. Kesuksesan, menurutnya, datang dari menjadi sangat hebat di suatu hal dan menggunakan keberhasilan itu untuk menciptakan kebebasan menekuni apa yang kamu cintai.

MEMBACA  Meta Milik Mark Zuckerberg Tandatangani Kesepakatan 20 Tahun dengan Raksasa Nuklir untuk Dukung Ambisi AI

Visi Namer soal masa depan hiburan terasa sangat membumi. Ia tidak mengatakan video vertikal akan menggantikan penceritaan yang hebat. Ia berargumen bahwa penecritaan selalu beradaptasi dengan cara audiens hidup. Televisi menggantikan radio. Streaming menegguskan kabel. Ponsel pintar mengubah cara orang menonton.

Video vertikal, dalam pandangannya, hanyalah evolusi berikutnya.

Jika sejarah dapat dijadikan petunjuk, perusahaan yang paling dulu merangkul perubahan inilah yang nantinya akan mendefinisikan babak selanjutnya bagi dunia hiburan.

Mashable melaporkan secara langsung dari VidCon 2026 Anaheim. Ikuti liputan kami untuk wawancara kreator, sorotan panel, dan momen-momen terbesar dari konvensi.

Tinggalkan komentar