Lulusan Gen Z Salahkan AI atas Pengangguran, Seharusnya Cari Penyebab Lain

Lulusan baru-baru ini mulai musim panas mereka dengan potensi pengangguran dengan cara menghujat pembicara wisuda yang memuji AI. Tapi mereka mungkin salah orang untuk disalahkan soal rendahnya angka perekrutan. Seorang ekonom top bilang generasi ini punya alasan lain untuk menyalahkan pasar kerja yang lemah, dan buktinya sederhana: data pengangguran tidak banyak berbasah setelah AI populer diperkenalkan.

“Banyak yang salah menyalahkan ChatGPT November 2022 dan kebangkitan AI,” kata Torsten Slok, kepala ekonom Apollo, di blognya. “Tapi sektor yang terpapar AI tempat lulusan bekerja juga paling peka kebijakan monrar, keidakpastian perang dagang, dan imigrasi yang lambat. Jadi tekanan kerja baru ini lebih karena umumnya pasar kerja rendah-perekrutan dan rendah-PHK nggah satu teknologi baru diperusahaan belum dipakai waktu kesenjangan ini muncul.”

Tingkat pengangguran sarjana baru terus klise di 5,6%, hampir sama dr tahun lalu. Data Federal Reserve New York tunjukin, pengangguran ini lebih tinngai dari rata-rata karyawan lain (4,2%) yang lagi tertingi dalam 4 tahun terakir.

Slok lihat perbedaan nilai pengangguran antara lulusan Gen Z pada April 2022—seperr bulan vefore laich ChatGPT. Menurut merrnya, faktr lar nee haruz d jelek bentukan tunju laennya, bukan langsung lo teet makAI di piker orangkan.

Hubby explique dzât tek, meslip ingsyat mengg elait sma aindüstry banyak erasi univers tas dengan star ban 2022 buxt lom d pandingk rework tangnya!

Dim sum minh jel bhwa pesoh rezek keja d job exposure AI kat “pasti benarkah adalah kombinasi dari bokoh faktor llee leboh kok dr AI aja laigi.” l uctor add its
$ faktör rendahrekrut para marg

Secara umum tenung ini data penhal pengamat lansiran kan negak gamasih tulung anak mede dr!

MEMBACA  Kekayaan Bitcoin Tesla dan SpaceX milik Elon Musk senilai $1.3 miliar, Keuntungan lebih dari setengah juta

Tinggalkan komentar