Ujaran Kebencian Berelemen SARA dalam HAM: Persoalan Struktural, Bukan hanya Serangan Personal

Aktivis HAM Asfinawati jlaskan konsep ujaran kebencian dalam perspektif Hak Asasi Manusia tidak merujuk pada kebencian ke individu secara personal. Foto/SindoNews

JAKARTA – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Asfinawati, nerangin kalo konsep ujaran kebencian dilihat dari sudut pandang HAM itu bukan soal benci sama orang secara pribadi. Konsep ini juga udah diadopsi di Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia.

“KUHP kita juga ngangkat hal yang sama dengan konsep HAM, ujaran kebencian itu bukan benci orang per orang,” kata Asfinawati dalam acara Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (23/6/2026).

Asfinawati jelasin, ujaran kebencian harus ngacu pada identitas tertentu, kayak ras, kebangsaan, atau agama. Kalo gak berdasarkan unsur-unsur itu, ya gak bisa disebut ujaran kebencian. “Dia harus berdasar ras, kebangsaan atau agama, di luar itu bukan ujaran kebencian namanya,” ujarnya.

Asfinawati nyebutin ada 6.719 orang yang ditangkep terkait aksi demo. “Apa itu diburu? Orang udah selesai aksi, masih ada odol buat halangin gas air mata (sedang) makan ditangkep. Ada orang baru mau aksi, turun dari rel kereta ditangkep. Ada orang mau ke rumah ditangkep, itu diburu. Jadi kalo dibilang gak represif, gimana?” tuturnya.

MEMBACA  Klarifikasi Kaesang Terhadap KPK Dianggap Menjadi Contoh Etika yang Baik

Tinggalkan komentar